72 Jam di Trans-Siberian: Mengapa Mereka Tidak Pernah Bilang Nama Keretanya

Saya baru tahu di hari ketiga perjalanan, ketika seorang nenek Rusia duduk di sebelah saya sambil membuka tas plastik berisi telur rebus dan roti, bahwa tidak ada kereta yang bernama "Trans-Siberian Express".
Cerita dimulai dari keputusan bodoh di Jakarta, September 2024. Saya browsing di Booking.com, menemukan foto kereta merah dengan deretan vagón yang berkilau, kata-kata "Trans-Siberian Railway" di subtitle, dan harga sekitar Rp 12 juta untuk perjalanan 9 hari dari Moscow ke Vladivostok. Saya klik, bayar, print tiket, dan baru sadar dua minggu sebelum keberangkatan kalau apa yang saya pesan adalah Rute Trans-Siberian Railway, bukan sebuah kereta spesifik. Ada tiga rute utama dengan kereta dan operator berbeda. Saya naik salah satu, jalur yang menuju Vladivostok, tapi nama resminya bukan "Express" apa pun. Nama keretanya adalah Train 2 dari Moscow-Vladivostok, dioperasikan oleh Russian Railways, dan kami berangkat dari Stasiun Kazansky di Moscow pukul 14.15 sore, tepat seperti jadwal.
Pertama Kalinya Aku Paham Mengapa Orang Bilang Siberia Itu Gede
Naik kereta itu bukan sekadar perjalanan. Ini adalah pelanggaran terhadap waktu dan geografi. Kami meninggalkan Moscow pada Kamis sore, dan tidak akan melihat kota besar lagi sampai kami tiba di Vladivostok, 9 hari kemudian, di Jumat pagi. Selama 216 jam, saya akan tidur, makan, berbicara, membaca, dan menonton pemandangan yang berubah hanya dalam gradasi warna: putih, abu-abu, putih, abu-abu, sesekali hijau gelap, lalu putih lagi.
Kabin saya adalah kelas yang disebut "2-berth", artinya saya berbagi compartment dengan satu orang lagi — seorang perempuan Kazakh bernama Aida yang tidak pernah membuka mulut kecuali untuk minta air panas dari petugas. Kasurnya sempit, bantal keras seperti batu bata, selimut tebal berwarna biru gelap. Jendela kecil menampilkan Rusia yang bertambah liar seiring kereta bergerak ke timur. Hari pertama masih ada desa, pohon birch putih yang terkenal di Siberia, sesekali rumah kayu tua dengan pagar berkarat. Hari kedua, pohon mulai menghilang. Hari ketiga, hanya ada lapangan hampa dan langit yang membosankan.
Kereta bergerak rata-rata 60 kilometer per jam, dan jarak total Moscow ke Vladivostok adalah 9.289 kilometer. Matematika itu berarti kami akan melakukan perjalanan ini dalam waktu yang tidak bisa dipercepat, tidak peduli seberapa malunya Anda ingin sampai. Tidak ada WiFi. Tidak ada sinyal handphone sampai stasiun kecil. Sebuah kereta membawa Anda ke tempat di mana waktu itu milik kereta, bukan Anda.
Hidup Tiga Hari di Ruang Kecil Dengan Nenek yang Makan Telur Rebus
Hari ketiga pagi, nenek itu naik di Stasiun Novosibirsk, stasiun terbesar di Siberia. Dia membawa tas plastik putih yang berisi hidangan rumah — telur rebus, roti hitam, keju, apel, dan sekantong penuh teh kering yang dia taruh dalam teko kecil dari kaca yang mulai pecah di sudutnya. Dia bernama Ludmila, berusia 74 tahun menurut identitas yang saya lihat sekilas ketika dia duduk, dan dia adalah satu-satunya orang Rusia murni di antara 12 penumpang di area saya. Yang lain adalah turis Korea, seorang backpacker Jerman, pasangan muda dari Jepang, dua pria Mongolia, dan aku.
Ludmila berbicara bahasa Rusia dengan nada yang nyaring ketika berbicara dengan petugas, tapi diam senyap dengan saya. Dia memandang saya makan instant noodle dengan ekspresi campuran simpati dan penilaian yang sangat jelas. Pada pukul 11 pagi, dia menawarkan sebutir telur rebus kepada saya. Saya menolak dengan sopan. Dia memberikannya lagi 5 menit kemudian, kali ini dengan sesuap roti hitam. Saya masih menolak. Lalu dia membuat suara "tsk-tsk" yang keras dan mulai memotong telur untuk dirinya sendiri, mengunyah dengan bunyi yang keras, membersihkan sisa kulit telur dari mulutnya dengan tangan, dan melanjutkan membaca novel Rusia tebal yang dia bawa dari halaman 342 — dia memberi tahu saya, tanpa saya tanya, bahwa dia sudah membaca buku ini 7 kali.
Kereta melewati Stasiun Irkutsk pada hari keempat pagi. Ini adalah kota besar ketiga di rute kami, terletak di tepi Danau Baikal, danau air tawar terdalam di dunia. Saya tahu ini dari buku panduan yang saya baca sebelum keberangkatan, bukan dari jendela kereta, karena kereta tidak berhenti cukup lama untuk melihat apa pun. Kami berhenti hanya 20 menit. Ludmila turun, membeli tas plastik baru berisi lebih banyak makanan, kembali, dan memberikan saya sesuap sup daging yang dia panaskan dengan air panas dari ketel petugas. Saya tidak bisa menolak lagi. Sup itu panas, asin, dan paling enak yang saya makan dalam tiga hari.
Tiket kelas 2-berth untuk rute Moscow-Vladivostok 9 hari berkisar antara Rp 10 juta sampai Rp 15 juta tergantung musim dan kapan Anda memesan. Harga itu tidak termasuk makanan. Kereta memiliki restoran mobil yang menyediakan makanan panas, tapi harganya mahal — sekali makan nasi dengan daging sekitar Rp 280.000. Saya membawa tiga dus instant noodle, sepuluh kaleng sarden, satu bungkus besar kacang panggang, empat buah apel, dan satu termos teh yang terus saya isi dengan air panas gratis dari petugas kereta. Ludmila pikir rencana makanan saya adalah bencana kemanusiaan.
Ketika Tubuhmu Berhenti Mengerti Zona Waktu dan Mulai Mengerti Kereta
Hari kelima, saya berhenti melihat pemandangan di luar jendela. Otak saya sudah jenuh dengan tikungan rel yang sama, warna langit yang sama, ritme "tok-tok-tok" dari roda kereta yang sama setiap 3 detik. Saya mulai memperhatikan hal lain: bagaimana petugas kereta bergerak dengan gerakan yang sama setiap hari, bagaimana musik klasik Rusia diputar melalui speaker kecil di lorong pada jam 7 pagi dan 9 malam, bagaimana Ludmila selalu membeli teh di stasiun dengan harga yang sama (Rp 35.000 untuk 5 kantong), bagaimana Aida, roommate saya, tidak pernah berbicara tapi selalu tersenyum sedikit ketika saya bilang selamat pagi.
Zona waktu berubah 7 kali selama perjalanan. Moscow adalah UTC+3. Vladivostok adalah UTC+10. Setiap jam tubuh Anda bilang "waktunya makan", jam di kereta sudah berubah jadi jam 2 siang di zona waktu lokal. Saya berhenti percaya jam tangan saya pada hari ketiga dan mulai mengikuti ritme kereta: tidur ketika semua orang tidur, bangun ketika Ludmila membuat kebisingan dengan persiapan sarapannya, makan ketika saya lapar, bukan ketika jam bilang begitu.
Stasiun Chita pada hari kelima malam adalah tempat di mana sesuatu berubah. Kami melewati batas antara bagian Siberia yang masih memiliki beberapa infrastruktur dan bagian yang benar-benar wild. Kereta berhenti 40 menit. Ludmila turun dan tidak kembali setelah 5 menit. Saya panik pikir dia ketinggalan kereta. Tapi dia kembali pada menit ke-38, membawa tas plastik yang sama, berisi telur rebus dan roti, seperti biasa. "Toko yang bagus di sini," kata dia, pertama kalinya dia berbicara langsung kepada saya dalam bahasa Inggris yang sangat buruk dan aksen yang tebal. Saya mengangguk. Dia memberikan saya sebuah apel merah yang begitu besar dan segar sampai rasanya seperti penghinaan kepada apel-apel suram yang saya beli dari bandara Moscow.
Hari Kedelapan Ketika Saya Mengerti Mengapa Orang Jatuh Cinta dengan Kereta
Perjalanan panjang tidak mengubah tempat, tidak sampai hari terakhir. Hari kedelapan, dataran berbukit mulai muncul lagi. Pohon menjadi lebih lebat. Sungai menjadi lebih besar. Langit biru, untuk pertama kalinya dalam tiga hari. Saya melihat kelinci di tepi jalur kereta, dan seorang backpacker Jerman di compartment sebelah menunjukkan saya foto kelinci yang dia ambil kemarin. Setiap orang di kereta mulai berbicara lebih banyak. Ludmila mulai menceritakan tentang cucunya yang tinggal di Vladivostok, tentang bagaimana dia naik kereta ini setiap tahun untuk mengunjunginya, tentang bagaimana kereta adalah satu-satunya cara yang wajar untuk menghabiskan waktu dan sampai pada saat yang bersamaan.
"Kereta membuat Anda menjadi sabar," kata Ludmila pada pukul 4 sore, hari terakhir, sambil membersihkan teko kaca yang pecah miliknya. "Pesawat membuat Anda terburu-buru. Mobil membuat Anda lelah. Kereta membuat Anda berpikir." Saya setuju, meski saya tidak yakin saya benar-benar memikirkan apa pun selain di mana makanan saya berikutnya datang dari.
Kereta tiba di Vladivostok pada pukul 9.17 pagi, hari kesembilan, 4 menit lebih awal dari jadwal. Kami memberi tahu satu sama lain. Ludmila memberikan saya nomor WhatsApp-nya "untuk ketika Anda kembali ke Rusia." Aida tersenyum dan berpindah tempat tidur untuk memberikan saya ruang untuk keluar duluan. Saya turun dengan backpack yang lebih ringan dari ketika saya naik (saya makan sebagian besar persediaan saya, untungnya), dan saya berjalan di platform Stasiun Vladivostok tanpa tahu persis apa yang saya rasakan. Saya adalah orang yang sama seperti 9 hari yang lalu, tapi sepertinya saya telah meninggalkan sesuatu di kereta. Tidak ada yang penting, hanya waktu.
Catatan Penting yang Saya Pelajari dengan Cara Susah
- Pesan tiket Trans-Siberian langsung melalui situs Russian Railways (www.rzd.ru) atau agensi lokal di Jakarta seperti Turist atau Bimosa, bukan melalui Booking.com. Booking.com menampilkan harga yang sudah ditambah komisi, dan customer service mereka tidak bisa membantu masalah spesifik kereta Rusia. Saya buang Rp 500.000 untuk perubahan tanggal booking karena tidak tahu ini.
- Bawa kartu diskon ISIC jika Anda masih pelajar — beberapa stasiun besar memberikan diskon untuk makanan dan minuman di restoran kereta. Saya tidak punya, jadi saya bayar harga penuh untuk setiap piring nasi yang saya beli.
- Jangan ambil kelas 4-berth atau dormitory jika Anda ingin privasi. Roommate random bisa saja adalah orang yang tidur sambil mendengkur atau bangun jam 5 pagi untuk membersihkan semuanya dengan keras. Kelas 2-berth adalah harga terbaik untuk kenyamanan.
- Bawa solder kecil atau colokan adaptor universal. Stasiun-stasiun besar memiliki outlet listrik di area tunggu, dan saya bertemu seorang traveler Korea yang smart charger semua device-nya di Novosibirsk. Saya hanya menggunakan power bank saya, yang mati pada hari kelima.
- Ludmila bilang padaku bahwa membeli makanan di stasiun lokal jauh lebih murah dan lebih baik daripada membawa dari Moscow. Dia benar. Telur rebus di Novosibirsk hanya Rp 25.000 untuk 6 butir. Di Moscow airport saya bayar Rp 95.000 untuk 2 butir. Ambil uang tunai dalam rupiah atau dolar sebelum perjalanan, atau gunakan Wise untuk transfer lokal, karena tidak semua ATM di stasiun kecil menerima kartu kredit internasional.
- Jangan tidur dengan jendela terbuka di atas Rp 10.000 dari permukaan laut atau di area dengan banyak terowongan. Asap dari lokomotif akan masuk ke compartment Anda dan membuat Anda batuk semalaman. Saya buang 2 malam tidur untuk pelajaran ini di dekat Danau Baikal.
- Petugas kereta (provodnitsa) adalah orang penting terpenting di kereta. Mereka bisa memberikan air panas gratis, membantu Anda menukar uang pada kurs yang wajar, dan memberitahu Anda jadwal berhenti yang akurat. Ludmila memberikan petugas kami sebotol vodka kecil pada hari ketiga, dan sejak saat itu dia mendapat perlakuan khusus. Saya tidak membawa vodka, jadi saya hanya tersenyum banyak dan berterima kasih.
Sebenarnya Worth It Banget, Cuma Tidak Untuk Alasan yang Anda Kira
Ketika orang bertanya kepada saya "bagaimana perjalanan Trans-Siberian kamu?", mereka selalu mengharapkan jawaban tentang pemandangan spektakuler atau petualangan ekstrem. Tapi perjalanan itu bukan tentang itu. Itu tentang 9 hari membiarkan diri Anda berhenti bergerak cepat, tentang belajar bahwa kenyamanan maksimal bukan hal penting, tentang percakapan dengan nenek Rusia yang menjual barang elektronik bekas di Vladivostok dan naik kereta setiap tahun hanya untuk melihat cucu yang mengasingkan diri.
Apakah saya akan naik lagi? Ya, tapi tidak dengan rute Moscow-Vladivostok. Ketiga rute Trans-Siberian berbeda. Rute yang saya ambil adalah yang paling panjang dan paling mahal. Ada rute Moscow-Beijing yang lebih pendek (7 hari) dan rute Moscow-Ulan Bator (5 hari) yang menambahkan Mongolia ke dalam perjalanan. Jika saya naik lagi, saya akan mencoba salah satu yang itu, dan saya akan membawa lebih banyak uang tunai, lebih sedikit instant noodle, dan saya akan duduk di sebelah jendela, bukan di atas koper di lantai compartment, seperti yang saya lakukan di hari ketiga sampai kelima.
Perjalanan Trans-Siberian cocok untuk orang yang tidak takut bosan, tidak membutuhkan WiFi untuk bertahan hidup, suka membaca buku tebal atau menonton pemandangan, atau hanya ingin menghabiskan waktu dengan cara yang paling lambat dan paling legal di dunia. Ini bukan untuk Anda jika Anda adalah tipe orang yang butuh aktivitas setiap jam atau jika Anda tidak bisa duduk di satu tempat lebih dari 6 jam tanpa merasa seperti gila. Tapi jika Anda adalah tipe orang yang bisa menghargai sebuah makanan sederhana dari nenek lokal, percakapan yang buruk dalam bahasa Inggris yang terputus-putus, dan ritme "tok-tok-tok" dari roda kereta yang membuat Anda tertidur dengan lebih nyenyak daripada tempat tidur terbaik di hotel bintang lima, maka Trans-Siberian Railway adalah jawaban untuk pertanyaan yang bahkan Anda tidak tahu Anda lakukan.
Ludmila mengirim saya pesan WhatsApp dua bulan setelah saya turun dari kereta. Hanya satu kata: "Тоска." Saya harus tanya Google Translate. Itu artinya adalah "longing" atau "yearning" dalam bahasa Inggris, tapi tidak ada satu kata dalam bahasa Inggris yang bisa menangkap arti sebenarnya. Itu adalah kerinduan yang dalam, tanpa objek yang jelas, yang membuat Anda ingin kembali ke sesuatu yang tidak Anda mengerti sepenuhnya. Saya pikir dia sedang memberi tahu saya bahwa dia sudah naik kereta lagi.
Bagikan Artikel Ini
Tertarik Pergi ke Sana?
Cek Paket Tour Kami
Semua paket dirancang khusus untuk traveler Indonesia — dari visa, tiket, sampai guide lokal.

Kazakhstan–Kyrgyzstan–Uzbekistan–Tajikistan · 11 hari 9 malam
Central Asia 4-TAN
Rp 33.400.000

Russia · 9 hari 7 malam
Russia Aurora
Rp 31.000.000
Artikel Lainnya

Eropa
Saint Petersburg: Istana, Kanal, dan Malam Putih yang Memukau (Cerita Traveler Indonesia yang Tersesat di Hermitage)
12 menit

Eropa
Ke Abkhazia Sendirian: Negara yang Tidak Ada di Peta Sebagian Dunia
12 menit

Sejarah dan Budaya
Jejak Kekaisaran Ottoman: Perjalanan Saya Mengerti Kenapa Empir 600 Tahun Ini Mengubah Dunia
8 menit




