Aktau: Kota Kaspia yang Kejam dan Mempesona, Rupiah Saya Hampir Habis di Sini

Saya almost rela pulang dari Aktau setelah 6 jam pertama, dan itu bukan karena kota ini jelek — tapi karena saya tidak tahu ini tempat semenakutkan apa.
Ceritanya begini: di akhir Maret 2025, saya memutuskan untuk pergi ke Kazakhstan sendirian, tepatnya ke Aktau, kota di tepi Laut Kaspia yang paling jarang dikunjungi turis Indonesia. Saya tidak tahu kenapa saya memilih tempat ini — mungkin karena nama Aktau sendiri terdengar seperti ujian keberanian. Rencana awal saya adalah tinggal 4 hari, menjelajahi kota, naik perahu ke tengah Laut Kaspia kalau memungkinkan, lalu terbang balik ke Almaty. Waktu mendarat di Bandara Mangystau, saya baru menyadari: saya membuat keputusan yang sangat bodoh, atau sangat brilliant. Saya masih belum tahu sampai sekarang.
Ketika Uang Saya Tidak Cukup untuk Taksi Bandara
Bandara Mangystau itu 40 kilometer dari pusat kota Aktau, dan taksi resmi minimalnya Rp 450.000 untuk sekali perjalanan. Saya coba aplikasi Yandex.Taxi, yang notabene bekerja di seluruh Kazakhstan. Tapi tidak ada driver yang mau pickup di area itu. Google Maps juga memberikan rute yang tidak masuk akal — 1 jam 20 menit untuk jarak yang seharusnya 40 menit. Ada seorang lelaki tua, mungkin satpam atau sopir informal, yang menawarkan untuk membawa saya ke kota dengan harga Rp 300.000. Saya tanya, "Boleh pakai kartu kredit?" Dia geleng. "Cash saja. Tenge atau rupiah." Saya hanya punya kartu kredit dan sekitar Rp 200.000 dalam uang tunai. Panic mode ON.
Kami bernegosiasi selama 15 menit di depan terminal. Lelaki itu akhirnya mau menerima Rp 200.000 plus Rp 50.000 yang akan saya bayarkan via Wise (aplikasi transfer uang internasional) begitu sampai hotel dengan WiFi. Ini adalah keputusan pertama saya yang sebetulnya cukup percaya diri, tapi juga sangat berisiko — saya mempercayai orang asing di negara yang belum pernah saya kunjungi untuk membawa saya ke tempat yang belum saya tahu lokasinya. Tapi itulah satu-satunya pilihan saya.
Nama sopir itu Daulet. Dia berbicara Rusia dengan aksen yang berat, sedikit Inggris, dan ketika tahu saya dari Indonesia, dia langsung mengubah nada. "Ah, Indonesia! Saya tahu. Bali. Kampanye." Kami tertawa. Perjalanan 40 kilometer itu terasa seperti 2 jam karena Daulet membawa saya melalui rute yang tidak biasa, menunjuk ke arah horizon kosong dan berkata, "Itu Laut Kaspia." Saya tidak melihat air — hanya pasir, langit putih, dan beberapa truk yang lewat.
Kota yang Terasa Seperti Armada Pelabuhan yang Terdampar
Aktau itu kota aneh yang tidak terasa seperti kota. Populasinya sekitar 150.000 orang, tapi rasanya seperti 50.000 orang tersebar di area yang sangat luas. Gedung-gedung apartemen Soviet-era berdiri tegak dengan cat mengelupas, banyak yang sepi, beberapa terlihat belum selesai dibangun. Aktivitas ekonomi Aktau sangat bergantung pada industri minyak, gas, dan pertambangan uranium — ini bukan kota pariwisata, dan kota ini tidak pura-pura menjadi satu. Ketika Daulet mengantar saya ke hotel yang saya booking, "Hotel Mangystau," dia membuat canda: "Ini hotel terbaik di kota. Yang lain, mereka hotel untuk pekerja minyak saja."
Hotel Mangystau itu sebenarnya tidak buruk — kamar berukuran sedang, kasur lumayan, AC bekerja, dan harga Rp 450.000 per malam untuk satu orang. Lobby-nya sepi. Resepsionis wanita berusia 40-an, bernama Gulshat, memberikan kunci dengan gesture minimal, sebelum mendadak bertanya, "Kamu sendiri?" Ketika saya angguk, dia menjadi perhatian. "Tidak ada orang lain?" Aku tahu dia bertanya apakah saya bepergian bersama teman atau keluarga. "Tidak, sendirian." Gulshat lantas menghabiskan 30 menit berikutnya untuk memberikan saya panduan tertulis tentang di mana saya boleh pergi, jam berapa tempat tutup, dan nomor telepon untuk panggilan darurat. Ini adalah momen pertama kalinya saya merasa bahwa kota ini benar-benar tidak terbiasa dengan turis solo, khususnya perempuan.
Hari pertama saya, saya jalan ke arah yang Gulshat rekomendasikan. Pusat kota Aktau itu kecil — sekitar 1 kilometer persegi dengan jalan-jalan lurus dan lampu lalu lintas yang jarang menyala. Ada satu mal yang cukup besar, yang namanya bisa aku lupakan tapi aku ingat hanya ada supermarket Carrefour, toko elektronik, dan outlet pakaian. Tidak ada kafe yang nyaman untuk duduk lama-lama. Warung makan lokal ada, tapi mayoritas hanya melayani pukul 11 pagi sampai jam 3 sore — mereka tutup untuk istirahat, lalu buka lagi jam 6 malam sampai jam 9 malam. Saya harus menyesuaikan jam makan saya dengan jadwal mereka, bukan sebaliknya.
Laut Kaspia yang Mencuri Waktu Saya
Hari kedua di Aktau, saya pergi ke pelabuhan. Pelabuhan Aktau adalah gerbang lalu lintas kapal penumpang dan kargo ke Baku (Azerbaijan) dan kota-kota lain di sebelah timur Laut Kaspia. Saya tidak bisa naik kapal penumpang begitu saja — hanya mereka yang punya tiket atau orang lokal yang boleh masuk kawasan pelabuhan. Tapi saya bisa berdiri di tepi dan melihat dermaga dari jauh.
Saya minta Gulshat informasi tentang tur ke tengah Laut Kaspia. Dia bilang, "Sangat sulit sekarang. Musim tidak bagus. Air dingin. Ombak besar." Hari-harinya akhir Maret, temperature sekitar 10 derajat Celsius, dan Laut Kaspia masih dalam kondisi "tidak ramah." Gulshat memberi tahu saya bahwa tour operator lokal ada, tapi mereka mengulur-ulur jadwal tergantung cuaca. Saya coba hubungi dua operator via WhatsApp — keduanya balas setelah 12 jam, dan keduanya bilang, "Mungkin besok, atau lusa. Tergantung angin." Ini adalah pengalaman pertama kalinya saya merasakan bahwa waktu bukan ukuran absolut di kota ini — waktu ditentukan oleh cuaca dan keadaan laut.
Saya memutuskan untuk pergi ke Mangystau Nature Reserve, yang jaraknya 100 kilometer ke arah barat dari Aktau. Untuk sampai ke sana, saya harus menyewa mobil atau bergabung dengan tour group. Harga mobil sewaan dengan driver, Gulshat informasikan, sekitar Rp 800.000 sampai Rp 1.200.000 untuk sehari penuh. Ini di luar budget saya. Saya coba cari tour group via internet, tapi hasilnya sangat terbatas — hanya ada dua website yang menampilkan Mangystau Nature Reserve sebagai paket tour, dan keduanya meminta Rp 600.000 sampai Rp 900.000 per orang. Saya pikir, biaya lumayan untuk pemandangan gunung batu yang mungkin bisa saya lihat dari foto. Saya skip.
Makanan yang Membuat Saya Merasa Seperti Alien
Masalah terbesar saya di Aktau adalah tidak ada pilihan makanan. Saya vegetarian, atau setidaknya saya berusaha untuk tidak makan daging merah. Di Aktau, daging adalah pilihan utama di setiap warung. Saya datang ke satu restoran lokal, memesan "nasi dengan sayuran," dan mereka memahami "nasi dengan ayam dan sayuran." Saya coba lagi ke warung lain, dan respon mereka sama. "Sayuran saja? Tidak ada ayam?" Seperti saya meminta hal yang absurd.
Ada satu kafe kecil yang Gulshat rekomendasikan, tempat mereka menyajikan plov (nasi kuning dengan daging, tapi bisa request tanpa daging). Nama tempatnya saya lupa, tapi lokasinya di belakang supermarket. Pemiliknya, seorang ibu berusia 60-an, sangat bersimpati dengan request saya. "Vegetarian? Baik." Dia masakin nasi plov dengan kental dan rempah yang lengkap, plus sepiring mentimun acar dan bir Kvass lokal (minuman tradisional asam yang dibuat dari roti hitam). Semua itu harganya hanya Rp 120.000. Saya makan di tempat itu setiap hari selama 4 hari, dan ibu itu mulai mengenali saya, bahkan menanyakan apakah saya akan kembali besok.
Satu pengalaman kuliner yang memorable adalah ketika saya mencoba beshbarmak — hidangan tradisional Kazakhstan berupa daging (atau dalam kasus saya, telur) di atas lembaran pasta dan bawang merah. Saya pesan dari restoran di mal, mereka agak kecewa saat saya minta tanpa daging, tapi tetap mereka buat. Hasilnya sangat enak, dan itu harga Rp 200.000. Dari sini saya belajar: jangan takut minta modifikasi. Orang-orang Aktau mungkin terlihat dingin di awal, tapi mereka cukup accommodate kalau kamu jelasin kebutuhan kamu dengan jelas dan patient.
Saat Saya Nyaris Kehabisan Uang Tunai
Hari ketiga di Aktau, situasi finansial saya menjadi perhatian. Saya tidak bisa tarik uang dari ATM menggunakan kartu kredit Indonesia saya — mayoritas ATM di Aktau hanya menerima kartu Kazakhstan atau Rusia. Saya coba cari money changer, dan hanya ada dua lokasi di seluruh kota yang bisa menukar rupiah ke tenge. Harganya buruk sekali — exchange rate mereka 10 persen lebih jelek dari rate resmi. Saya hanya punya Rp 400.000 tersisa, dan itu sudah dipakai untuk dua malam menginap, makan, dan transport lokal.
Saya ada opsi: transfer uang melalui Wise (aplikasi fintech transfer internasional), tapi prosesnya butuh 24 jam. Atau saya bisa minta Daulet (sopir yang tadi) untuk help, dengan iming-iming saya bayar via Wise kemudian. Tapi itu terasa seperti gambling — saya tidak tahu apakah uang akan masuk tepat waktu. Saya putuskan untuk live frugal selama 24 jam ke depan, makan di warung murah, tidak pergi jauh-jauh, dan tunggu transfer Wise.
Wise itu super berguna untuk saya di Kazakhstan, tapi ingat bahwa proses verifikasi awal bisa memakan waktu lama kalau kamu belum pernah ke negara itu sebelumnya. Saya beruntung karena saya sudah setup Wise account dari Indonesia sebelum keberangkatan, jadi hanya tinggal transfer langsung ke bank account lokal Daulet. Uang masuk 18 jam kemudian, dan crisis averted.
Kalau Saya Pergi Lagi, Ini yang Akan Saya Lakukan Beda
- Bawa tunai lebih banyak — setidaknya Rp 2 juta dalam bentuk campuran dolar USD dan tenge. ATM sangat terbatas dan money changer sangat merugikan. Atau setup kartu debit internasional yang bisa dipakai di Astana atau Almaty, lalu ambil tunai di sana sebelum ke Aktau.
- Booking tour ke Mangystau Nature Reserve atau Ustyurt Plateau SEBELUM berangkat, bukan di tempat. Online saat di sini sangat lambat, dan operator lokal tidak responsif. Hubungi mereka dari Indonesia dengan email, berikan deadline yang jelas, dan dapatkan konfirmasi jadwal minimal 3 hari sebelum kedatangan.
- Jangan harap WiFi yang stabil di hotel murah. Hotel Mangystau punya WiFi, tapi sering mati. Beli data lokal dari Beeline atau Aktiv (provider telekomunikasi Kazakhstan lokal) begitu sampai — kartu SIM bisa dapat di kios kecil di mal atau di airport dengan harga Rp 50.000, dan paket data 1 bulan hanya Rp 100.000 untuk unlimited dengan kecepatan lumayan.
- Jangan percaya Google Maps untuk navigasi di Aktau. Aplikasi itu tidak akurat dan banyak jalan tidak tertera. Screenshot koordinat dari Yandex.Karta (peta Rusia) dan bawa offline map itu, atau minta nomor WhatsApp hotel/hostel dan chat mereka dengan lokasi yang ingin dituju.
- Bawa pakaian yang sangat warm untuk akhir Maret — saya datang dengan jaket ringan saja, padahal suhu malam bisa jatuh ke 5 derajat Celsius. Tidak ada tempat yang nyaman untuk hang out di siang hari yang gelap dan angin kencang. Mall adalah satu-satunya ruang ber-AC yang buka lama, dan itu membosankan.
- Jangan harap untuk "city tourism" yang romantis di Aktau. Kota ini bukan tujuan wisata — itu kota kerja industri berat yang kebetulan ada kota kecil di sekelilingnya. Datang ke sini hanya jika kamu ingin melihat bagaimana kehidupan nyata di tepi Laut Kaspia, atau sebagai transit point ke tempat lain di Kazakhstan atau Azerbaijan.
Jujur Saja: Aktau Itu Apa?
Saya tidak akan bilang Aktau itu destinasi yang saya recommend untuk liburan santai dan menyenangkan. Tapi saya juga tidak akan bilang ini pemborosan waktu dan uang. Aktau adalah kota untuk orang-orang yang rela merasa tidak nyaman untuk belajar tentang diri mereka sendiri. Saya tinggal 4 hari di sini, dan saya berubah dari orang yang panik saat pertama kali landing, menjadi orang yang cukup comfortable walk ke mal sendirian sambil membayangkan kehidupan orang-orang lokal yang tinggal di sini selamanya. Saya lihat ibu pemilik warung makan yang melayani saya dengan ramah setiap hari. Saya lihat arsitek atau engineer muda yang datang ke mal di waktu makan siang. Saya lihat pelabuhan yang terus beroperasi tanpa henti, dengan kapal-kapal yang datang dan pergi ke dunia yang saya belum jelajahi.
Worth it nggak? Tergantung versi kamu dari "worth it." Kalau worth it berarti foto bagus untuk Instagram, atau pengalaman kuliner yang luar biasa, atau relaksasi total — tidak, jangan ke Aktau. Tapi kalau worth it berarti kamu ingin melihat tempat yang sesungguhnya, mengalami ketidaknyamanan yang membuat kamu tumbuh, dan pulang dengan cerita yang tidak ada yang punya, maka Aktau worth it banget. Saya balik ke Almaty setelah 4 hari, dan saya rindu warung si ibu dengan plov-nya, saya rindu percakapan dengan Gulshat yang finally smile di hari terakhir saya, dan saya rindu rasanya menjadi satu-satunya orang asing di kota yang tidak peduli dengan pariwisata.
Kalau saya balik lagi ke Kazakhstan, saya pasti akan kembali ke Aktau. Tapi kali ini, saya akan tinggal lebih lama, dan saya akan belajar berbicara Rusia dengan lebih baik — supaya saya bisa menceritakan kepada ibu itu bahwa saya sudah lama merindukan plov-nya.
Bagikan Artikel Ini
Tertarik Pergi ke Sana?
Cek Paket Tour Kami
Semua paket dirancang khusus untuk traveler Indonesia — dari visa, tiket, sampai guide lokal.

Kazakhstan–Kyrgyzstan–Uzbekistan–Tajikistan · 11 hari 9 malam
Central Asia 4-TAN
Rp 33.400.000

Russia · 9 hari 7 malam
Russia Aurora
Rp 31.000.000
Artikel Lainnya

Eropa
Saint Petersburg: Istana, Kanal, dan Malam Putih yang Memukau (Cerita Traveler Indonesia yang Tersesat di Hermitage)
12 menit

Eropa
Ke Abkhazia Sendirian: Negara yang Tidak Ada di Peta Sebagian Dunia
12 menit

Sejarah dan Budaya
Jejak Kekaisaran Ottoman: Perjalanan Saya Mengerti Kenapa Empir 600 Tahun Ini Mengubah Dunia
8 menit




