Jejak Kekaisaran Rusia: Dari Istana Winter ke Kota-kota Terpencil yang Masih Bau Sejarah

Saya baru tahu kalau Kekaisaran Rusia pernah menguasai 22.4 juta kilometer persegi—negara terbesar yang pernah ada dalam sejarah modern—sampai saat saya berdiri di depan Winter Palace jam 7 pagi, udara St. Petersburg minus 8 derajat, dan seorang nenek Rusia berbisik ke cucunya dalam bahasa Rusia sambil menunjuk ke jendela istana itu. Cucunya tidak tertarik. Dia sibuk main game di iPad. Nenek itu tiba-tiba tertawa sedih. Itulah momen saya mulai mengerti: Kekaisaran Rusia bukan hanya tentang peta, tapi tentang orang-orang yang masih membawa beban sejarah itu di bahu mereka setiap hari.
Saya terbang ke Rusia pada Januari 2022, dua minggu sebelum invasi Ukraina dimulai. Timing yang tidak disengaja, tapi membuat perjalanan saya jadi terasa berbeda—seperti melihat sesuatu untuk terakhir kalinya, meski saat itu saya tidak tahu itu. Dari Jakarta, saya terbang Garuda ke Singapura (Rp 2.8 juta), lalu Air Asia ke Kuala Lumpur (Rp 600.000), baru naik Turkish Airlines ke Istanbul (Rp 1.2 juta), dan terakhir Aeroflot ke St. Petersburg (Rp 1.5 juta). Total sembilan jam menunggu di bandara. Total uang yang terbuang untuk transaksi visa Rusia (dikerjakan di Jakarta, VFS center, Rp 850.000) plus asuransi perjalanan (Rp 300.000). Saya datang sendirian. Pacar saya tidak berani karena berita-berita ganas tentang Rusia. Teman-teman di Indonesia pada bilang saya gila. Mereka tidak salah.
St. Petersburg: Ketika Istana Tsar Masih Berdiri Utuh
Winter Palace itu lebih besar dari yang saya bayangkan. Saya lihat foto berkali-kali di internet, tapi foto tidak kasih gambaran tentang berapa banyak orang yang berdiri di tangga hijau itu setiap harinya—ribuan. Saya antri 2 jam, tiket masuk 750 rubel (sekitar Rp 120.000), dan di dalamnya saya bisa memahami mengapa Kekaisaran Rusia bisa bertahan sampai tahun 1917. Ruangan demi ruangan penuh emas, lukisan, dan barang-barang mewah yang tidak masuk akal. Seorang pemandu wisata—namanya Irina, berusia 62 tahun, sudah jadi pemandu 35 tahun—menangkap saya sedang mencatat harga tiket dan bercerita.
"Saat saya mulai, harga tiket 50 rubel," kata Irina dalam bahasa Inggris yang diucapkan sangat lambat, seperti dia memilih setiap kata dengan hati-hati. "Sekarang 750. Saya terima gaji hari ini Rp 50.000 lebih sedikit dari yang saya terima 10 tahun lalu. Anda mengerti?" Saya tidak berani menjawab. Irina melanjutkan: "Tsar Nicholas II, dia tidak mengerti ekonomi. Dia hanya tahu perang dan kemewahan. Istrinya, Alexandra, dia beli pakaian setiap bulan. Mereka punya anak laki-laki, hemophilia. Dia penderita. Itu sebabnya ada Rasputin. Anda tahu Rasputin?" Saya mengangguk. "Rasputin bukan dokter. Tapi dia datang ke istana, dia berbisik kepada ratu, dan ratu percaya. Itu awal kehancuran. Satu keluarga yang salah keputusan, berikutnya satu negara jatuh. Sekarang saya tidak punya pensiun yang layak. Sekarang saya kerja sampai mati." Irina tidak tersenyum ketika berkata ini.
Saya pulang dari istana dengan kepala pening. Di kamar hostel saya (Rp 180.000 semalam, di Nevsky Prospekt, nama tempatnya "Nevsky Prospect Hostel", kasurnya sempit, kamar mandi di luar kamar), saya buka laptop dan mulai membaca tentang bagaimana Kekaisaran Rusia terbentuk. Peter the Great. Catherine the Great. Mereka bukan tokoh abstrak lagi—mereka adalah orang yang keputusannya membunuh jutaan orang. Mereka adalah alasan mengapa nenek itu tadi tertawa sedih di depan jendela istana.
Moscow: Merah, Besar, dan Punya Lapisan Sejarah yang Tidak Terhitung
Saya naik kereta dari St. Petersburg ke Moscow jam 11 malam—kereta Sapsan, yang paling cepat di Rusia, Rp 900.000 untuk kursi kelas dua. Jarak 700 kilometer ditempuh dalam 4 jam. Aku duduk di samping seorang pria Rusia berusia 50-an, Alexander, yang kerja di perusahaan gas. Kami tidak berbicara sampai kereta meninggalkan St. Petersburg sejauh 50 kilometer, dan dia tiba-tiba menawarkan vodka dari flask-nya. Saya menolak, dan dia tertawa. "Indonesia minum apa?" tanya Alexander. "Air minum," kata saya. "Air minum! Itu bagus. Ini Rusia—kami minum vodka atau kami mati." Dia serius. Dia minum tiga gelas sampai kami sampai Moscow, lalu dia tertidur dengan kepala di arah saya, dan saya hanya duduk diam, menonton pemandangan pohon-pohon es dari jendela kereta.
Moscow itu menakjubkan dalam cara yang tidak nyaman. Kota itu tidak indah—dia brutal. Gedung-gedung Soviet yang masif, Kremlin yang berdinding merah tebal, dan Lapangan Merah yang tidak seindah foto. Tetapi ada sesuatu tentang skala kota itu yang membuat saya mengerti kenapa orang Rusia percaya pada imperium. Segalanya besar. Berlebihan. Bahkan polisi lalu lintas mereka berseragam seperti tentara. Saya menginap di "Red Square Hotel" (bukan nama asli, saya lupa), Rp 450.000 semalam, dengan pemandangan ke Kremlin dari jendela kamar. Saya berbayar untuk pemandangan itu, tetapi ketika saya berdiri di jendela malam pertama saya, saya merasa tidak enak. Seperti saya menonton sesuatu yang seharusnya tidak boleh saya saksikan.
Saya habiskan 4 hari di Moscow, dan setiap harinya saya pergi ke tempat-tempat yang berhubungan dengan sejarah Kekaisaran. State Kremlin Palace—Rp 200.000 untuk tur, 2 jam. Saya lihat ruangan tempat keputusan tentang perang Crimea diputuskan (atau setidaknya, saya disuruh percaya itu). Armoury Museum—Rp 300.000, antri 1.5 jam—penuh dengan barang-barang harta milik tsar, senjata, gerobak emas. Saya lihat satu gerobak yang dipakai oleh Peter the Great untuk perjalanan ke Eropa. Gerobak itu dibuat dari kayu oak, dihias dengan emas, dan diambil alih oleh kelompok komunis pada 1917. Sekarang gerobak itu ada di museum, dan orang-orang Indonesia seperti saya datang membayar uang untuk melihatnya. Saya tidak bisa menghentikan pikiran bahwa ini absurd.
Di kafeteria museum (Rp 120.000 untuk sup dan roti), saya mengobrol dengan seorang akademisi muda, Dmitri, yang sedang menulis tesis tentang kolaps Kekaisaran. Dia bilang: "Kekaisaran Rusia tidak jatuh karena komunis atau karena revolusi. Dia jatuh karena tsar tidak mengerti rakyatnya. Rakyat lapar, tsar membeli gerobak emas. Semuanya ada penyebab." Dmitri menggunakan kata "semuanya ada penyebab" tiga kali dalam 20 menit obrolan kami. Saya pikir dia sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bukan saya.
Vladivostok: Ujung Imperium yang Sudah Mati
Saya terbang dari Moscow ke Vladivostok—penerbangan domestik, Rp 1.8 juta, 8 jam, dengan Aeroflot—karena saya ingin melihat titik akhir dari Kekaisaran Rusia. Vladivostok adalah kota pelabuhan di ujung timur, tempat di mana ekspansi Rusia berakhir. Ketika Nicholas II berkuasa (1894-1917), Vladivostok adalah simbol kekuatan Rusia—armada besar, benteng, kontrol atas samudra. Sekarang, kota itu adalah kota pelabuhan yang redup, penuh dengan kapal kargo yang berkarat, dan bangunan Soviet yang terlihat seperti akan runtuh dalam 20 tahun ke depan.
Saya menginap di losmen kecil bernama "Okeanskaya" (Rp 200.000 semalam, kasur keras, shower dengan tekanan air yang tidak stabil), dan pemiliknya adalah seorang perempuan bernama Olga yang berusia 70-an. Olga berbicara bahasa Inggris dengan aksen yang sangat tebal, tetapi dia sangat senang berbicara dengan tamu dari luar negara. Ketika saya bilang saya dari Indonesia, matanya membesar. "Indonesia? Anda datang dari sana untuk sini?" Saya mengangguk. Olga mengundang saya minum teh di ruang keluarganya di belakang resepsi, dan kami duduk di sana selama 2 jam.
Olga bercerita tentang ayahnya, yang seorang perwira angkatan laut di era Soviet. "Ayah saya bilang kepada saya—dulu Vladivostok adalah kota yang paling penting di Rusia. Tidak ada yang bisa mengalahkan kita. Kita punya kapal, kita punya tentara, kita punya semua. Lalu Soviet jatuh, dan tiba-tiba Vladivostok hanya kota seperti kota lainnya. Orang tua saya meninggal dengan hati yang tidak puas. Mereka pikir negara akan selalu besar. Tapi tidak. Semuanya bisa berakhir. Semuanya." Olga minum tehnya tanpa memberikan saya kesempatan untuk menjawab. Di latar belakang, saya dengar kapal-kapal berlayar di pelabuhan, tetapi mereka berbunyi sedih, seperti menangis untuk kebesaran yang sudah hilang.
Saya keliling Vladivostok sendirian selama 3 hari. Saya ke Monumen Peninggal Perang di tepi pantai—memorial untuk orang-orang yang mati dalam perang Russo-Japanese (1904-1905), yang sebenarnya adalah salah satu tempat di mana Kekaisaran Rusia mulai menunjukkan kelemahan. Nama-nama diukir di batu, ribuan nama, dan tidak ada yang hidup lagi untuk mengingat mereka kecuali untuk monumen itu. Saya berdiri di sana selama 45 menit, hanya menonton laut dan pikiran yang tidak jelas di kepala saya.
Sebelum terbang keluar, saya makan malam di restoran kecil bernama "Primorskaya" (Rp 150.000 untuk ikan salmon dengan kentang, minuman termasuk vodka lokal yang murah), dan saya duduk di sebelah jendela yang menghadap ke pelabuhan. Saya lihat beberapa kapal Rusia yang masih berdinas, tetapi sebagian besar kelihatan seperti mayat yang belum dikubur. Seseorang di meja di sebelah saya—pria tua, mungkin 80-an—tertawa sendiri sambil minum. Dia tidak mengganggu saya, tetapi suara tawanya membuat saya ingin pergi lebih cepat. Saya habiskan makan malam saya sambil memandang keluar, mencoba mengingat apa yang saya pelajari tentang Kekaisaran Rusia selama tiga minggu ini, dan satu-satunya yang bisa saya pikirkan adalah ini: kekaisaran, seperti orang, tidak hidup selamanya.
Tips Dari Pengalaman Langsung (Bukan dari Internet)
- Jangan percaya Google Maps untuk alamat di Rusia—download offline map Yandex Maps atau OsmAnd. Saya hampir tersesat di Moscow karena Google Maps memberi alamat yang berbeda 500 meter dari lokasi yang sebenarnya. Yandex Maps milik Rusia, akurat, dan bisa didownload untuk offline.
- Visa Rusia harus dipersiapkan 3 bulan sebelumnya, bukan 1 bulan. Proses di Jakarta bisa lambat sekali. Saya hampir telat karena saya kira bisa dikerjakan 6 minggu sebelum perjalanan. Tidak bisa. Visa Rusia juga tidak bisa dipegang oleh siapa saja—pastikan Anda tidak memiliki tanda negatif di rekam negara mereka.
- Uang Rusia (rubel) sulit ditukar di Indonesia—bawa ATM card dan tarik di ATM Rusia. Saya coba tukar 500 dollar AS di Jakarta sebelum pergi, dan tidak ada bank yang menerima rubel Rusia. Setiap ATM di Rusia bisa menerima kartu internasional, dan fee tidak terlalu besar (sekitar 2-3%). Jangan bawa mata uang cash kecuali dollar AS.
- Kereta Sapsan dari St. Petersburg ke Moscow adalah investasi terbaik yang bisa Anda buat—tidak hanya cepat, tapi bagian dari sejarah. Kereta itu sendiri adalah bukti teknologi Rusia modern. Saya bertemu Alexander yang bercerita tentang proyek infrastruktur Soviet, dan saya belajar lebih banyak dari percakapan itu daripada dari museum manapun.
- Jangan lewatkan pemandu wisata lokal—mereka punya cerita yang tidak akan pernah Anda baca di guidebook. Irina di Winter Palace, Dmitri di museum, Olga di losmen—mereka adalah orang-orang yang masih hidup dengan sejarah Kekaisaran Rusia setiap hari. Bayar mereka dengan baik, dengarkan mereka, dan Anda akan mengerti Rusia lebih dalam dari siapa pun.
- Suhu minus 8 derajat di Januari bukan yang terdingin, tapi pakaian yang tepat adalah kunci—investasikan dalam jaket yang bagus sebelum Anda tiba. Saya membeli jaket di Rusia (Rp 800.000 untuk jaket Rusia berkualitas tinggi), dan itu adalah keputusan terbaik. Jaket lokal dirancang untuk iklim Rusia dan lebih efisien daripada jaket dari Indonesia.
Apakah Rusia Benar-Benar Tentang Kekaisaran?
Ketika saya terbang kembali ke Jakarta, saya duduk di pesawat dan membaca ulang catatan saya. Tiga minggu. 22.4 juta kilometer persegi yang pernah dikuasai Kekaisaran Rusia. Saya hanya melihat tiga kota. Saya hanya berbicara dengan enam orang secara mendalam. Saya hanya membaca satu buku selama perjalanan (Dmitri merekomendasikan "The Fall of the Russian Empire" karya sesuatu-yang-saya-lupa). Saya tahu apa yang saya tidak tahu masih jauh lebih besar daripada apa yang saya tahu.
Tetapi ini yang saya pelajari: Kekaisaran Rusia bukan hanya tentang peta atau sejarah. Dia tentang orang-orang yang masih hidup dengan warisannya—nenek yang tertawa sedih, Irina yang tidak punya pensiun, Dmitri yang menulis tesis untuk mencari alasan, Olga yang mengingat ayahnya yang meninggal tidak puas. Mereka adalah Kekaisaran Rusia yang masih hidup. Kekaisaran sudah jatuh pada 1917, tetapi orang-orangnya masih membawa beban itu.
Saya akan kembali ke Rusia, tetapi tidak sekarang. Sekarang, saya hanya ingin mengingat apa yang saya lihat dan mendengarkan apa yang orang-orang itu katakan. Rusia bukan untuk traveler yang ingin foto-foto cantik di Instagram. Rusia adalah untuk orang-orang yang ingin mengerti apa yang terjadi ketika imperium jatuh, dan bagaimana orang-orangnya terus berjalan.





