Ke Abkhazia Sendirian: Negara yang Tidak Ada di Peta Sebagian Dunia

Saya baru tahu Abkhazia ada ketika membaca forum backpacker Reddit dan melihat foto pantai berpasir putih dengan latar belakang gunung berselimut salju. Komentar paling bawah: "Ini negara apa sih?" Jawabannya membuat saya penasaran untuk jam. Sebuah tempat yang tidak diakui sebagian besar dunia, tetapi punya infrastruktur tur yang nyata. Saya memutuskan pergi sendirian pada Mei 2024, setelah resign dari pekerjaan dan memberi diri sendiri liburan panjang. Tidak ada teman yang mau ikut. Tidak ada masalah.
Rencana saya simple: terbang dari Jakarta ke Moskow dulu pakai Turkish Airlines via Istanbul (seperti biasa, durasi total sekitar 15 jam termasuk transit), lalu dari Moskow saya naik pesawat domestik Aeroflot ke Sochi, dan dari Sochi drive ke Abkhazia. Saya sudah booking hostel di Sukhumi, ibukota Abkhazia, lewat Booking.com dengan harga Rp 185.000 per malam untuk kamar shared dengan Wi-Fi yang cukup bagus. Paspor Indonesia tidak butuh visa untuk masuk Abkhazia karena Abkhazia tidak ada di sistem kontrol imigrasi global yang ketat. Saya hanya perlu dokumentasi paspor yang valid. Riset minimal, berangkat dengan pikiran terbuka. Begitulah cara saya traveling.
Perbatasan yang Tidak Terlihat Seperti Perbatasan

Perjalanan dari Sochi ke Abkhazia itu aneh karena tidak ada pemeriksaan formal yang jelas. Saya naik taksi dari Bandara Sochi (sopirnya nama Wahyu, orang Indonesia yang sudah di Sochi 8 tahun), dan dia bilang, "Kamu mau ke Abkhazia? Nggak apa-apa, kami tinggal lewat aja." Mobil melintasi area yang terlihat seperti desa biasa saja, sampai akhirnya ada papan besar bertuliskan Abkhazian. Tidak ada pos pemeriksaan seperti border internasional pada umumnya. Tidak ada gerbang, tidak ada petugas imigrasi yang marah-marah, tidak ada stamp di paspor. Hanya perjalanan 30 menit di jalan beraspal, dan saya sudah di negara yang mayoritas dunia tidak mengakui keberadaannya.
Wahyu tertawa ketika saya bilang, "Ini aja perbatasannya?" Dia jawab, "Iyalah, ini negara kecil, bukan Amerika. Apa semua orang mau masuk?" Dia benar. Menurut riwayat yang saya baca kemudian, Abkhazia memang tidak memiliki sistem imigrasi yang setat seperti negara internasional lainnya karena status politiknya yang ambigu. Georgia, secara resmi, masih menganggap Abkhazia sebagai wilayahnya yang diduduki. Dunia lain tidak tahu harus percaya siapa. Jadi mereka biarkan saja. Hasilnya: traveler seperti saya bisa masuk tanpa drama apa pun. Wahyu suruh saya nge-tap kartu kredit di ATM lokal untuk ambil mata uang setempat, ruble Rusia. "Ruble lebih stabil daripada mata uang Abkhazia yang lokal," dia bilang sambil ngerokok. Saya ikut saran dia dan beruntung.
Sukhumi: Ibu Kota yang Sepi tetapi Tidak Mati
Hostel saya terletak di tepi pantai utama Sukhumi, sekitar 500 meter dari Seaside Park, taman pantai yang dibangun pada era Soviet. Ketika saya tiba sore hari, penerima tamu hostel (nama Sari, perempuan Rusia setengah Abkhazia) memberikan kunci kamar dan menunjukkan mana pintu dapur. "Makanan di sini tidak begitu bagus dan mahal kalau makan di restoran tepi pantai. Lebih baik ke pasar tradisional atau masak sendiri," katanya dengan front matter yang jujur. Saya mulai suka kesannya segera.
Sukhumi tidak seperti kota pantai Eropa yang ramai. Tidak ada toko designer, tidak ada antrian di restoran mewah, tidak ada yacht yang gemilau. Yang ada adalah bangunan Soviet yang terawat biasa saja, beberapa rumah yang cacat karena perang 1992-1993, dan paling penting: orang-orang yang santai. Sangat santai. Saya jalan-jalan sendirian malam pertama di sekitar pantai, dan yang saya temui hanya pasangan tua yang ngobrol di bangku, dan seorang pemuda yang memancing. Tidak ada lalu lintas yang membingungkan, tidak ada turis rombongan yang bising, tidak ada toko souvenir yang menjebak Anda. Hanya saya, laut Hitam, dan kesunyian yang menenangkan.
Saya makan malam di warung kecil dekat hostel, tempat yang namanya saya lupa, tetapi sang pemilik (namanya Pak Anto, Abkhaz yang bilingual Rusia-Abkhazia) memasak khachapuri (semacam roti keju yang dipanggang) dan membuat khash (sup tulang tradisional) dari resep keluarganya sendiri. Harga totalnya Rp 95.000 untuk dua piring dan teh manis. Rasa makanannya menciptakan impression yang tidak terlupakan. Begitulah cara saya memulai perjalanan di tempat ini: dengan perut yang kenyang, kepala yang penuh pertanyaan, dan hati yang tenang.
Gunung, Gua, dan Danau Turquoise yang Tidak Ada di Postcard Massal
Hari kedua saya, Sari menawarkan bantuan untuk mengatur tour ke daerah pedalaman. Dia tahu driver lokal yang bernama Dika, orang Abkhaz yang tinggal di Sukhumi dan sering anter turis. Kami agree untuk one-day tour ke tiga tempat: Pitsunda dengan cathedral tua, Gagra dengan botanical garden-nya, dan kalaupun bisa tepat waktu, Lake Ritsa. Biaya total Rp 450.000 untuk full day. Tarif yang jauh lebih murah daripada paket tour dari Russia. Saya agree tanpa negosiasi.
Dika menjemput pukul 8 pagi dengan mobil Lada merah yang sudah berusia 15 tahun. Tidak ada AC yang bagus, jendela harus dibuka manual, kaset musik di dalam mobil semuanya lagu Rusia dari tahun 90an. Tapi mobil itu bergerak dengan stabil, dan Dika adalah talker yang baik. Selama 2 jam perjalanan pertama menuju Gagra, dia menceritakan tentang pertumbuhan pariwisata Abkhazia yang mulai meningkat sejak 2015 (sebelumnya sangat sedikit karena konflik). "Sekarang orang dari Moscow, St. Petersburg datang di musim panas. Mereka mau pantai yang hangat, tidak perlu visa, dekat dengan rumah mereka," jelasnya sambil navigasi jalan berliku di tepi pantai.
Gagra adalah resort kecil dengan botanical garden yang indah. Tidak ramai, tetapi terawat. Saya berjalan sendirian di antara pohon-pohon tropis selama satu jam, melihat monyet kecil yang bermain di cabang, mendengarkan burung yang tidak saya kenal namanya. Tidak ada plakat informatif dalam bahasa Inggris. Tidak ada aturan fotografi yang ketat. Saya ambil foto yang saya mau. Setelah Gagra, kami drive ke Pitsunda. Katedral di sana adalah bangunan gereja ortodoks yang dibangun pada abad keenam Masehi, lalu dikonversi menjadi masjid selama periode Ottoman. Sekarang itu museum. Interior-nya kosong kecuali beberapa patung dan epigrafi. Saya masuk, keliling 20 menit, keluar. Tidak ada biaya masuk.
Yang paling membuat saya terpesona adalah ketika Dika bilang, "Masih ada waktu, kita coba ke Lake Ritsa, tapi rombongan lain sudah naik ke atas." Kami mulai naik dari kota Octamchire ke arah pegunungan. Jalan mulai sempit, berbelok-belok, dan view berubah drastis. Dari pantai Laut Hitam yang datar, tiba-tiba kami di pegunungan dengan hutan pinus yang padat. Suhu turun, dan cakrawala berubah. Setelah 45 menit berkendara, Dika tunjuk ke arah kiri dan bilang, "Itu Lake Ritsa." Danau itu berwarna turquoise yang begitu sempurna sehingga terlihat seperti Photoshop, padahal real. Air yang jernih sampai ke dasar, dikelilingi tebing batu vertikal yang mencapai ketinggian 1000 meter lebih, dan tidak ada yang lain di dekat situ kecuali kami dan satu keluarga Rusia yang sedang picnic. Saya turun dari mobil, berdiri di tepian, dan tidak bisa bicara apapun. Hanya mendengarkan angin dan suara air yang bergerak.
Dika duduk di kayu bekas pohon dan bilang, "Ini tempat yang paling sedikit orang lihat di Abkhazia. Kebanyakan turis Rusia tidak tahu atau tidak mau capek naik." Dia benar. Tidak ada fasilitas, tidak ada kafe, tidak ada toilet yang layak. Hanya danau, gunung, dan sunyi. Saya tanya, "Kalau saya mau tidur di sini?" Dika ketawa, "Tidak aman. Ada beruang." Saya tidak tanya lagi.
Voronya Cave: Jatuh Dalam Kegelapan yang Terdalam

Pada hari ketiga saya di Sukhazia, saya tanya Sari apakah ada tour ke Voronya Cave, gua terdalam di dunia menurut catatan resmi. Sari bilang, "Itu jauh, di area Arapit Massif, butuh 4 jam drive satu arah, dan tour guide yang resmi tidak begitu banyak. Biarkan saya tanya ke Dika." Dika ternyata punya teman yang bisa, naif dari Gudauta, kota lebih kecil dari Sukhumi. Kami agree untuk hari berikutnya, dengan biaya yang lebih tinggi: Rp 625.000 per orang untuk full day, dengan guide lokal yang tidak berbicara Inggris sedikit pun, hanya Rusia dan Abkhaza.
Perjalanan ke gua itu brutal. Jalan meninggalkan pantai sepenuhnya, masuk ke hutan pegunungan yang semakin lebat. Di tengah perjalanan, mobil berhenti karena seorang pekerja memblokir jalan dengan traktor (ada pembangunan jalan baru yang belum rampung). Kami tunggu 20 menit. Tidak ada komplain. Tidak ada orang di balik kami yang marah. Hanya menunggu, sambil Dika dan guide lain (namanya Hendra, orang Abkhaz yang serius) ngobrol dalam bahasa mereka sendiri sambil merokok.
Ketika kami tiba di lokasi gua, tidak ada visitor center atau stasiun ranger. Yang ada hanya sebuah rumah kecil dari beton dengan papan bertulisan "Cave" dalam tulisan yang tidak jelas. Hendra minta saya untuk membayar masuk di sini, Rp 75.000 per orang, lalu kami dibekali flashlight manual (bukan LED, tapi benar-benar flashlight lampu putih yang butuh baterai besar). "Pakaian lebih tebal," Hendra bilang, "Di dalam 4 derajat Celsius."
Kami turun ke gua. Pertama, cuma dalam 50 meter, masih bisa lihat cahaya dari luar. Lalu Hendra matikan flashlight eksternal dan kami cuma pakai senter manual saja. Gelap yang saya alami itu bukan gelap seperti malam. Ini gelap yang absolut. Saya tidak bisa lihat telapak kaki saya sendiri. Hanya bisa dengar droplet air yang jatuh dari atap gua, dan langkah kaki kami di atas batu yang licin. Hendra warning, "Jangan jatuh. Rumah sakit jauh."
Voronya Cave adalah lubang bumi yang masuk 2.190 meter ke dalam, dan kami hanya pergi sampai 600 meter lebih karena lebih dalam membutuhkan equipment khusus dan training. Tapi bahkan sampai 600 meter saja sudah membuat saya merasa seperti alien yang baru pertama kali sampai di planet baru. Kami liat formasi stalaktit dan stalagmit yang berusia ribuan tahun, air yang mengalir membentuk kolam kecil, dan di satu area, saya lihat semacam kerangka satwa purba yang Hendra tunjuk-tunjuk. Saya tanya, "Apa itu?" dan dia jawab, "Tidak tahu, sangat tua." Hanya itu. Tidak ada penjelasan lebih detail. Tidak ada romantisasi. Hanya fakta mentah dari kegelapan bumi itu sendiri.
Perjalanan naik dari gua itu lebih melelahkan daripada turun. Kaki saya tergelincir dua kali, tangan saya cari pegangan di dinding batu yang kasar. Saya merasa lelah secara fisik dan juga emosional. Ketika saya kembali ke luar dan matanya terkena cahaya matahari yang terang, saya almost merasa seperti baru lahir. Hendra tersenyum untuk pertama kalinya di hari itu dan bilang, "Bagus?" Saya jawab, "Sangat bagus. Sangat menakutkan."
Makanan, Ruble, dan Strategi Bertahan Tanpa Bahasa Lokal
Abkhazia bukan negara yang ramah terhadap turis yang tidak berbicara Rusia. Bahasa lokal, Abkhaza, adalah bahasa yang hanya digunakan di sana dan beberapa minoritas di Turki. Bahasa Inggris? Jarang sekali. Bahkan di hostel saya, hanya Sari dan Dika yang bisa sedikit Inggris. Orang-orang lainnya berkomunikasi melalui gestur dan nada. Makanan adalah hal yang sulit dipilih jika Anda tidak bisa baca menu yang ditulis dalam Cyrillic.
Strategi saya: ambil foto menu dengan Google Translate real-time, atau point ke piring yang orang lain makan dan bilang, "Saya mau itu." Metode kedua lebih berhasil. Di restoran lokal manapun yang saya masuki, saya cukup menunjuk ke arah orang lain dan tersenyum. Mereka akan tahu. Harga makanan di Abkhazia sangat terjangkau. Makan malam yang enak dan mengenyangkan berkisar Rp 80.000 hingga Rp 150.000. Satu mangkuk sup berkualitas baik Rp 35.000. Khachapuri yang bikin puasa Rp 45.000. Anggur lokal Abkhazia (karena tea dan wine adalah produk utama mereka) sekitar Rp 60.000 per botol untuk kualitas yang decent.
Soal uang, mata uang resmi Abkhazia itu dinar Abkhaza, tetapi tidak ada yang mau terima di area pecahan besar karena volatilitas nilai tukarnya. Semua orang lebih suka ruble Rusia. Saya dapat tahu ini dari Wahyu di hari pertama, jadi saya langsung ambil ruble di ATM Sochi sebelum masuk Abkhazia. ATM Abkhazia sendiri ada, tetapi sering macet atau tidak ada uang. Lebih aman bawa ruble dari Rusia. Kurs saat saya ke sana bulan November 2024 adalah 1 USD sekitar 100 ruble, jadi 100.000 ruble sama dengan sekitar Rp 1,3 juta. Saya ambil 500.000 ruble (Rp 6,5 juta) untuk 6 hari perjalanan, dan terbukti cukup untuk semua keperluan plus tour guide dan transportasi.
Catatan Keras yang Harus Saya Pelajari dengan Cara yang Sulit
Jangan percaya Google Maps untuk jalanan lokal di Abkhazia. Maps itu sering outdated atau kesalahan lokasi. Lebih baik tanya langsung ke hostel atau guide lokal tentang rute yang tepat. Saya hampir tersesat ketika mencoba sendiri ke pasar tradisional Sukhumi karena maps menunjukkan jalan yang sudah ditutup.
Bawa pakaian berlapis untuk area pegunungan, bahkan di musim yang terlihat hangat. Sukhumi bisa 22 derajat Celsius, tetapi Lake Ritsa dan area dekat gua bisa turun drastis sampai 4-8 derajat Celsius dalam hitungan 1 jam perjalanan. Saya hanya bawa satu sweater dan merasa kedinginan saat di ketinggian.
Jangan bergantung pada Wi-Fi publik untuk hal urgent karena jaringannya unstable. Download offline map Sukhumi dan kota-kota lain terlebih dahulu. Saya butuh 45 menit untuk upload satu video 3 menit ke social media dari hostel, padahal mereka bilang Wi-Fi bagus.
Jika menggunakan taksi, always gunakan GoJek atau Yandex Taxi daripada taksi jalanan karena harganya lebih transparan dan driver tercatat. Saya naik taksi jalanan sekali untuk perjalanan pendek dari pasar ke hostel, dan sopirnya minta 1.5 kali lipat dari harga normal. Untung saya bawa converter harga di ponsel.
Pasar tradisional Sukhumi buka pagi hari sampai sore, dan tutup lebih awal daripada kota besar lainnya. Jangan datang setelah jam 6 sore jika Anda mau beli fresh produce. Saya datang jam 7 malam dan tinggal sisa-sisa barang yang kurang bagus.
Jangan ambil foto orang lokal tanpa izin, terutama di area yang dekat dengan pos keamanan. Saya coba foto pemancing di pantai dan orang keamanan lokal mendekat dan cukup tidak friendly. Saya delete fotonya langsung. Privacy mereka adalah hal yang serious diambil.
Jadi, Worth It Nggak? Atau Saya Akan Balik Lagi?
Abkhazia bukan destinasi untuk semua orang. Jika Anda adalah tipe traveler yang butuh luxury accommodation, michelin-star restaurant, dan wifi yang super cepat, jangan pergi ke sana. Anda akan frustrated. Tapi jika Anda adalah tipe yang suka keheningan, alam yang raw, budaya yang tidak terkomersialisasi, dan pengalaman yang betul-betul different dari tempat yang sudah pernah Anda kunjungi, maka Abkhazia adalah tempat yang tepat. Saya habis enam hari di sana, dan tidak pernah merasa bosan atau menyesal walau sekali pun.
Apakah saya akan balik? Iya, saya rasa akan. Kali ini saya penasaran untuk explore area Novy Afon (New Athos) dan Auadhara yang terkenal dengan mineral springs-nya. Saya juga penasaran untuk datang di musim panas, ketika pantai lebih ramai dan bisa snorkeling di laut Hitam. Tapi komitmen saya tidak sebesar orang yang sudah plan setahun sebelumnya. Abkhazia sudah masuk dalam list "tempat yang menyenangkan untuk diulang kapan saja," bukan "tempat yang harus saya cek sebelum mati."
Untuk siapa perjalanan ini cocok? Cocok untuk backpacker yang punya waktu cukup dan budget terbatas. Cocok untuk photographer yang suka subject yang raw dan unpretentious. Cocok untuk orang yang lelah dengan tourist trap dan mau experience yang authentic. Tidak cocok untuk yang butuh comfort maksimal, atau yang tidak suka uncertainty dalam perjalanan. Abkhazia itu adalah opposite dari certainty. Dan saya suka itu.
Bagikan Artikel Ini
Tertarik Pergi ke Sana?
Cek Paket Tour Kami
Semua paket dirancang khusus untuk traveler Indonesia — dari visa, tiket, sampai guide lokal.

Kazakhstan–Kyrgyzstan–Uzbekistan–Tajikistan · 11 hari 9 malam
Central Asia 4-TAN
Rp 33.400.000

Russia · 9 hari 7 malam
Russia Aurora
Rp 31.000.000
Artikel Lainnya

Eropa
Saint Petersburg: Istana, Kanal, dan Malam Putih yang Memukau (Cerita Traveler Indonesia yang Tersesat di Hermitage)
12 menit

Sejarah dan Budaya
Jejak Kekaisaran Ottoman: Perjalanan Saya Mengerti Kenapa Empir 600 Tahun Ini Mengubah Dunia
8 menit

Eropa
72 Jam di Trans-Siberian: Mengapa Mereka Tidak Pernah Bilang Nama Keretanya
10 menit
