Kembali ke BlogEropa

Menunggu Aurora di Tromsø: Malam yang Membuat Kamera Saya Gemetar

Tim Sundaftrip 12 Mei 2026 16 menit
Menunggu Aurora di Tromsø: Malam yang Membuat Kamera Saya Gemetar

Saat aurora mulai bergoyang untuk pertama kalinya, saya lupa bahwa termometer menunjukkan minus 12 derajat Celsius dan saya sudah berdiri di tengah tundra selama tiga jam.

Saya terbang ke Tromsø pada akhir Oktober 2025, bersama teman sekelas bernama Rina yang juga punya obsesi sama dengan aurora borealis. Kami berdua baru lulus dari program fotografi di sebuah sekolah fotografi di Jakarta, dan tour guide yang merekomendasikan Tromsø adalah satu-satunya guru yang setuju bahwa mengejar cahaya di tengah musim dingin bukan ide gila. Penerbangan dari Jakarta ke Tromsø memakan waktu lebih dari 24 jam dengan transit di Oslo dan dilanjutkan pesawat regional. Saat kami touchdown di bandara Tromsø, matahari sudah terbenam padahal baru jam 4 sore. Saya baru menyadari: di sini, hari itu singkat seperti berkedip.

Pertama Kali Melihat Tromsø dalam Gelap Hampir Total

Kami naik taksi dari bandara, dan driver saya bernama Per. Dia bilang namanya berarti "batu" dalam bahasa Norwegia, dan sambil tertawa dia berkata bahwa namanya cocok karena "orang-orang Tromsø sama keras kepalanya dengan batu." Saat mobilnya meluncur ke kota, kami cuma lihat cahaya lampu jalan yang tersebar jarang. Per Menunjukkan sesuatu melalui kaca depan: "Ada aurora sekarang. Lemah, tapi ada." Kami saling pandang. Saya langsung buka tas kamera.

Penginapan kami adalah sebuah guesthouse kecil bernama Nordboreal Arctic Lodge, terletak di area Kvaløya yang sedikit lebih jauh dari pusat Tromsø, sekitar 25 menit berkendara. Per bilang tempat ini bagus untuk aurora hunting karena jauh dari polusi cahaya kota. Pemiliknya bernama Kari, seorang wanita berusia 50-an dengan rambut berwarna-warni yang berubah tiap minggu. Saat kami check-in, rambutnya hijau. Kari langsung tanya: "Kamera apa yang kalian bawa?" Ternyata dia juga fotograpi, hobby. Dia tawarkan untuk membantu kami cari spot terbaik setiap malam jika aurora aktif. Kamar kami Rp 650.000 per malam, dengan pemanas sangat kuat dan jendela menghadap langsung ke utara. Rencana sempurna.

Malam pertama, kami bergabung dengan tour group yang Rina booking sebelum keberangkatan. Harganya Rp 1.200.000 per orang, termasuk transportation dan guide. Tour operator-nya bernama Visit Tromsø, salah satu yang paling terkenal. Guide kami bernama Simen, pria muda sekali mungkin 24 tahun, dengan janggut tebal yang tertutupi salju. Simen bilang musim aurora ini baru saja dimulai, jadi peluang kami cukup bagus. "Oktober atau November adalah bulan transisi," katanya sambil menyetir van mereka ke arah utara kota. "Jika ada aktivitas solar storm, aurora bisa muncul kapan saja."

Kami diantar ke sebuah pantai terbuka dekat dengan sebuah desa kecil bernama Ersfjord. Per dan Simen setup tripod mereka. Per bilang untuk aurora, minimal aperture f/2.8, ISO 3200 ke atas, dan shutter speed 15-20 detik. Kami tunggu. Jam 9 malam, langit masih gelap tapi bintang sangat terang. Saya rekam bintang-bintang itu, karena koneksi mereka dengan aurora di imajinasi saya jadi lebih dekat. Jam 11 malam, tidak ada tanda-tanda aurora. Suhu sudah terasa menembus layering saya. Simen suruh kami masuk van yang mesin sudah dinyalakan, dan kami minum hot chocolate yang dia siapkan di vacuum flask. Malam itu kami pulang jam 1 pagi tanpa aurora.

Dua Hari Menunggu Langit yang Tidak Bersedia Menampilkan Pertunjukan

Hari kedua, Rina dan saya keputusan untuk tidak join tour group. Kami ambil rental car dari sebuah tempat dekat pusat kota, harganya Rp 320.000 per hari, dan sewa mobil sendiri. Google Maps di sini bekerja dengan bagus, berbeda dengan yang saya dengar tentang tempat-tempat lain di dunia. Kami membawa kartu SIM lokal yang sudah kami beli di bandara, sehingga navigasi jalan tidak jadi masalah. Kari di lodge memberikan rekomendasi spot terbaik untuk aurora: sebuah bukit kecil di daerah Tromvik, dengan pemandangan langit yang luas dan jauh dari cahaya kota.

Tromvik terletak sekitar 40 menit berkendara dari lodge kami. Jalan yang kami lewati berbelok-belok melalui hutan pinus yang dalam, dan sesekali kami lihat rumah-rumah jarang yang berdiri sendirian di tengah kegelapan. Satu hal yang menakjubkan: di sini tidak ada pagar atau garis batas yang jelas antara jalan dan hutan. Kami bisa berhenti di mana saja, turun, dan langsung berdiri di alam. Kami setup di sebuah area parkir kecil di Tromvik, kira-kira jam 7 malam. Suhu waktu itu sekitar minus 10 derajat, dan saya harus pakai chemical hand warmer yang dijual di 7-Eleven lokal (harga Rp 25.000 per bungkus, dan saya beli 10 bungkus total selama tiga hari).

Kami tunggu dari jam 7 malam sampai jam 2 pagi. Tidak ada aurora. Langit sepanjang malam tetap kosong dan gelap, hanya dipenuhi bintang yang sangat jelas. Saya ambil banyak foto bintang, dan beberapa foto landscape dengan bulan setengah yang terbit sekitar jam 10 malam. Kaki Rina mulai gemetar dari dingin, dan saya sendiri tidak bisa lagi merasakan ujung jari saya. Kami kembali ke lodge jam 2.45 pagi, dan Kari masih bangun. Dia nanya: "Tidur atau minum teh hangat dulu?" Kami pilih teh hangat. Kari cerita bahwa aktivitas aurora kemarin cukup rendah berdasarkan forecast yang dia lihat di aplikasi My Aurora Forecast. "Besok sore ada kemungkinan meningkat," katanya sambil menunjukkan aplikasi itu di iPad-nya.

Hari ketiga, Rina dan saya istirahat di siang hari. Kami tidur dari jam 7 pagi sampai jam 2 sore, kemudian makan mie ramen di warung Jepang di pusat kota (Rp 110.000 per mangkuk, daging rusa, enak sekali). Sore hari kami pergi ke Polaria Aquarium hanya untuk menghabiskan waktu dan berada dalam ruangan yang hangat. Kami lihat ikan dan fauna Arktik yang lain, tapi kami lebih tertarik dengan area indoor yang menampilkan live feed dari kamera underwater. Sekitar jam 4 sore, Kari mengirim pesan WhatsApp: "KP index naik jadi 7. Malam ini aurora pasti muncul. Di mana kalian?" Kami memecut balik ke lodge dan mempersiapkan semua gear.

Jam 11.15 Malam, Aurora Akhirnya Datang

Kami sampai di spot yang sama di Tromvik jam 6 malam. Kali ini tidak hanya kami berdua. Kari juga ikut dengan kamera mirrorless-nya dan Rina membawa teman barunya, seorang backpacker dari Prancis bernama Matthieu yang baru kenal saat makan mie ramen tadi. Kami setup tripod dan cuaca malam itu jauh lebih jelas dari malam sebelumnya. Angin tidak begitu kencang, hanya ada beberapa awan ringan di horizon. Kami duduk di dalam mobil Rina dengan mesin menyala, menonton aplikasi My Aurora Forecast dan berbicara tentang camera settings sambil menenggak hot chocolate dari termos yang Kari bawa. Matthieu cerita bahwa dia sudah keliling Skandinavia selama dua bulan, dan ini adalah ketiga kalinya dia coba lihat aurora tapi belum pernah berhasil. "Mungkin malam ini adalah yang beruntung," kata Matthieu dengan aksen Prancis yang tebal.

Jam 11 malam, kami keluar dari mobil lagi. Suhu sudah turun menjadi minus 14 derajat, dan thermometer digital di kamera saya mulai memberikan warning tentang battery life yang pendek. Saya pasang battery heater yang saya beli khusus untuk trip ini (Rp 280.000, sangat worth it). Kami tunggu. Setiap 10 menit ada orang yang tanya: "Lihat sesuatu?" Setiap jawaban selalu "belum." Saya lihat Matthieu sudah gemetar dari dingin. Kari kasih dia hand warmer ekstra dan ajak dia masuk mobil lagi. Jam 11.15 malam, Rina sentak tangan saya. "Sana. Lihat." Saya angkat kepala dari viewfinder. Di langit utara, di atas horizon, ada cahaya hijau yang tipis, seperti garis neon yang sangat samar. Saya pukul paha saya sendiri. Benar-benar benar.

Aurora itu dimulai sebagai garis hijau yang sangat tipis, hampir seperti efek kelembaban lensa atau gambar yang tidak fokus. Tapi dalam 30 detik, cahayanya mulai bergerak. Bergerak naik, melengkung seperti tiara. Saya masih berdiri di tempat, tidak tahu harus lakukan apa. Kamera ada di tangan saya tapi saya lupa tekan shutter. Rina sudah mulai ambil foto. Kari suruh saya "AMBIL FOTO!" dengan suara keras. Saya tersentak dan mulai memotret. Fokus manual, aperture f/2.0, ISO 4000, shutter speed 20 detik, white balance tungsten karena pembacaan cahaya aurora tidak stabil. Saya tidak tahu apakah settings saya benar atau tidak. Yang saya tahu adalah cahaya di depan saya lebih terang dari cahaya yang pernah saya lihat sebelumnya di langit malam manapun. Warnanya bukan hanya hijau. Ada warna ungu halus di tepinya. Ada warna biru di bagian yang paling cerah. Ada white-ish glow di mana semua warna bertemu.

Aurora itu tetap di langit selama kira-kira 3 menit. Bergerak, bergerak, bergoyang, berdansa. Saya tidak bisa menggambarkan gerakan itu dengan akurat, karena gerakan itu sangat kompleks dan terlihat seperti organisme hidup. Saya hanya tahu saat aurora mulai hilang sedikit demi sedikit, saya mulai menyadari bahwa saya sedang berdiri di tengah tundra Norwegia pada pukul 11 malam tanpa merasa dingin. Saya bahkan tidak ingat bahwa saya pakai 7 layer pakaian termal. Mata saya hanya bisa fokus pada cahaya yang memudar itu.

Aurora muncul tiga kali lagi dalam semalam, dengan durasi yang semakin lama. Yang kedua berlangsung 8 menit, dengan intensitas yang jauh lebih terang. Kami semua berseru tidak percaya. Matthieu menangis. Tidak bercanda. Dia benar-benar menangis sambil memotret. Kari memberi dia tissue dan memeluknya sebentar. Yang ketiga berlangsung 12 menit, dan saat itu cahayanya sangat terang sehingga bisa lihat bayangan benda di tanah tanpa perlu cahaya buatan. Yang keempat hanya berapa detik, lebih seperti kilatan hijau daripada aurora yang penuh. Tapi cukup. Cukup untuk mengingatkan kami bahwa kami lihat sesuatu yang benar-benar langka.

Kami pulang jam 3.30 pagi dengan kartu memori penuh foto. Saat membuka foto di komputer, Rina menangis lagi, sekarang dari kebahagiaan. Foto-foto aurora kami tidak semulus foto-foto profesional yang sering terlihat di Instagram, karena beberapa setting kami belum optimal dan beberapa foto memang blur karena tangan gemetar dari dingin. Tapi di foto-foto itu, ada cerita. Ada momen kami berdua mengejar cahaya. Ada momen Matthieu menangis. Ada momen gelap sebelum cahaya datang. Dan ada cahaya itu sendiri, warna hijau yang tidak pernah saya lihat di bumi sebelumnya.

Persiapan Teknis yang Membuat Perbedaan Nyata

Setelah tiga malam di Tromsø dan akhirnya berhasil mengabadikan aurora, saya baru menyadari bahwa ada beberapa hal teknis yang ternyata sangat penting dan tidak ada di blog tulisan orang lain (atau mungkin ada tapi saya tidak membacanya dengan cukup teliti sebelum berangkat). Kamera saya adalah Canon 5D Mark IV dengan lensa Rokinon 16mm f/2.0 (lensa manual yang direkomendasikan guide Simen karena aperture-nya sangat besar dan harganya jauh lebih murah daripada lensa branded untuk aurora). Sebelum berangkat, saya membaca ratusan artikel tentang aurora fotografi, tapi yang benar-benar mengubah game adalah konsultasi singkat dengan teman yang pernah ke Greenland untuk liputan majalah hiking.

Dia bilang: "Jangan percaya manual kamera di siang hari. Malam hari, di bawah minus 10, LCD kamera bakal beda interpretasinya. Ambil beberapa test shot, lihat histogram di layar, tapi jangan percaya preview-nya penuh-penuh. Nanti saat import di komputer, baru kelihatan hasilnya." Dia juga kasih warning tentang battery. Baterai kamera akan turun 50 persen lebih cepat di cuaca dingin karena reaksi kimia di dalam baterai melambat. Saya jadi beli dua baterai cadangan dan battery heater khusus untuk kamera. Ternyata ini sangat berguna. Di malam ketiga, baterai pertama saya mati jam 1 malam karena dingin, meski saya hanya ambil 140 foto dalam 2 jam. Saya kasih baterai itu ke heater (yang merupakan pouch kecil berisi zat yang menghasilkan panas saat diaduk), tunggu 10 menit, dan baterai hidup lagi.

Hal lain yang tidak saya cermati: lensa manual fokus pada malam hari di suhu dingin sangat tricky. Saya coba fokus dengan live view di kamera, tapi LCD kamera sering memberi bayangan yang keliru tentang fokus. Kari ngajari saya cara yang dilakukan fotografer analog tempo dulu: fokus ke bulan, tunggu beberapa detik sampai autofokus selesai. Kemudian manual switch ke manual focus dan lock fokus. Setelah itu, tidak boleh sentuh fokus ring sama sekali sampai selesai shoot sesi malam itu. Teknik ini sederhana, tapi mengubah tingkat fokus yang tajam di foto saya dari mungkin 30 persen menjadi hampir 100 persen. Selisihnya sangat signifikan.

Tripod juga penting sekali, terutama tripod yang tidak mudah goyah di angin. Tripod saya yang ringan (Manfrotto Befree) ternyata tidak cocok untuk kondisi ini. Saat angin mulai bertiup dari utara jam 2 pagi, tripod itu mulai bergerak-gerak halus, dan foto saya mulai blur. Kari pakai tripod yang lebih berat dan lebih pendek, dan foto dia jauh lebih stabil. Dia bilang di Tromsø, banyak fotografer yang bahkan pasang beban tambahan di bawah tripod mereka, atau menambahkan kain di antara kaki tripod dengan tanah supaya lebih stabil.

Yang terakhir dan mungkin paling penting: remote shutter release. Saya pakai wired remote, tapi Kari merekomendasikan wireless remote (Rp 400.000) supaya tidak ada risk sentuh kamera saat shutter terbuka, karena sentuhan kecil bisa berakibat blur pada foto dengan shutter speed panjang. Saya tidak sempat beli sebelum berangkat, jadi banyak foto saya harus di-crop karena edge-nya sedikit blur dari saat saya tekan tombol. Ini pelajaran mahal yang tidak perlu terjadi jika saya lebih teliti.

Cuaca, Aktivitas Solar, dan Kendali Alam yang Tidak Bisa Dikalkulasi

Salah satu hal yang tidak pernah saya pahami sepenuhnya sampai tiba di Tromsø adalah bahwa mengejar aurora bukan semata tentang bawa kamera bagus dan pergi ke spot bagus. Ada variabel lain yang berperan jauh lebih besar: cuaca lokal dan aktivitas solar di matahari. Kari menjelaskan bahwa aurora hanya terlihat saat tiga kondisi terpenuhi: langit harus jernih tanpa awan, aktivitas solar harus cukup tinggi (biasanya diukur dengan KP index), dan elu harus di lokasi yang cukup jauh dari polusi cahaya. Ketiga kondisi ini jarang bertemu semua-muanya dalam satu malam yang sama.

Malam pertama kami, cuaca bagus dan langit jernih, tapi KP index hanya 3. Tidak cukup untuk aurora terlihat. Malam kedua, langit mulai berkabut dan KP index naik jadi 5, jadi kami dapat cahaya samar sebentar tapi tidak spectacular. Malam ketiga, cuaca menjadi lebih jernih, KP index melonjak jadi 7, dan itulah malam ketika kami lihat aurora dengan kualitas yang benar-benar membuat kami puas. Saya cek aplikasi My Aurora Forecast setiap hari, dan Kari juga ngecek aplikasi yang lain: Aurora Forecast, yang katanya lebih akurat untuk prediksi aktivitas solar minggu ke depan.

Ada satu malam ketika Rina dan saya berniat pergi ke spot lagi, tapi Kari lihat forecast dan bilang: "Jangan pergi. Cuaca buruk di atas jam 10 malam. Nanti ada badai salju." Kami percaya dan stay di lodge. Jam 11 malam, memang turun salju lebat, dan visibility turun drastis. Kami lihat dari jendela lodge bahwa area sekitar lodge hampir tidak terlihat. Kari puas dan bilang: "Lihat? Ini yang saya bilang. Trust the forecast." Pelajaran: Tromsø terkenal karena langit gelap dan lokasi tinggi lintang, tapi cuaca di sini juga ekstrem dan berubah cepat. Tidak ada jaminan bahwa aurora akan muncul selama periode kunjungan elu, terutama jika elu hanya datang 2-3 hari.

Tips Dari Pengalaman Langsung (Bukan dari Internet)

  • Pakai chemical hand warmer dari 7-Eleven lokal Tromsø, bukan yang dijual online di Indonesia. Harganya jauh lebih murah (Rp 25.000 vs Rp 60.000), dan kualitasnya sama. Beli minimal 10 bungkus sebelum malam pertama, karena saat cuaca dingin ekstrem, elu perlu 2-3 bungkus per session menunggu aurora.

  • Battery heater untuk kamera tidak opsional, itu mandatory. Saat suhu di bawah minus 12 derajat, baterai kamera kehilangan daya dengan cepat. Saya tidak akan berhasil ambil 600 foto aurora tanpa battery heater. Harganya sekitar Rp 280.000 di Amazon Japan, dan saya dapat dalam 2 hari sebelum keberangkatan.

  • Jangan rent tripod ringan kalau rencananya stay lama di area terbuka. Angin Arktik akan buat tripod bergerak halus, dan foto jadi blur. Kari pakai tripod yang modelnya pendek tapi sangat berat, dan foto dia konsisten sharp meskipun cuaca ekstrem. Ini detail yang sebenarnya lucu karena saya sudah baca artikel foto aurora ratusan kali tapi belum ada yang sebutkan ini.

  • Fokus manual di saat malam gelap adalah skill yang harus dipraktekin sebelum sampai. Tidak bisa hanya andalkan autofocus di viewfinder, karena LCD kamera akan beri tahu yang salah tentang fokus saat sangat dingin. Teknik yang berguna: fokus ke bulan atau bintang terang dulu, tunggu 5 detik, lalu switch ke manual fokus dan jangan sentuh fokus ring lagi semalaman.

  • Wireless remote shutter release akan menyelamatkan banyak foto dari blur yang tidak perlu. Saya ambil 600 foto di tiga malam, dan saya perkirakan 10 persen di antaranya blur sedang karena sentuhan tangan saat tekan tombol. Dengan wireless remote, angka itu bisa turun menjadi hampir 0.

  • Percaya forecast aplikasi, terutama My Aurora Forecast dan Aurora Forecast. Jangan pergi ke spot kalau forecast bilang cuaca akan jelek malam itu. Saya sudah berencana pergi tiga malam berturut-turut, tapi Kari bilang satu malam akan ada badai dan sebaiknya skip. Ternyata benar. Trust the locals dan trust the data.

  • Daftar tour group di malam pertama atau kedua jika elu masih ragu tentang spot terbaik. Guide lokal seperti Simen tahu dengan akurat di mana langit akan paling jernih berdasarkan kondisi lokal cuaca. Harga Rp 1.2 juta per orang mahal memang, tapi worth it untuk learning curve yang cepat.

  • White balance untuk aurora tidak bisa diandalkan ke auto setting kamera. Bergantung pada intensity aurora, saya pakai white balance tungsten, cool white, bahkan custom WB dengan temperature 3200K. Di post-processing nanti, elu bisa adjust lagi, jadi di lapangan jangan khawatir berlebihan. Yang penting sharpness dan komposisi sudah benar.

  • Jangan pakai filter polarizer untuk aurora. Cahaya aurora adalah cahaya alami yang sudah polarized, dan filter akan mengurangi intensitasnya. Elu ingin cahaya aurora masuk ke sensor kamera kaya mungkin, so remove any filters except UV filter jika kamera elu memang require that.

  • Spot Tromvik yang Rina dan saya temukan melalui rekomendasi Kari adalah salah satu yang terbaik, tapi bukan yang paling bagus untuk semua kondisi cuaca. Kalau ada awan di utara, spot di selatan atau timur kota mungkin lebih bagus. Ask locals atau guide untuk adjust based on real-time cuaca.

Apakah Perjalanan ke Tromsø Untuk Aurora Worth It? Jujur.

Saya akan honest: tidak setiap orang harus pergi ke Tromsø untuk mencoba mengabadikan aurora. Pertama, harganya tidak murah. Flight dari Jakarta ke Oslo saja sekitar Rp 6-8 juta, lalu Oslo ke Tromsø sekitar Rp 1-2 juta. Hotel Rp 600-800 ribuan per malam, makan minimal Rp 150 ribuan per hari, rental car Rp 320 ribuan per hari, dan tour group jika ikut Rp 1.2 juta per hari. Total untuk 4 hari 3 malam (dengan asumsi ikut tour 1 hari), seorang traveler akan habis sekitar Rp 20-25 juta. Itu besar.

Kedua, tidak ada jaminan. Kami beruntung malam ketiga ada aurora spektakuler, tapi bisa saja kami pulang tanpa lihat apa-apa. Saya baca cerita orang yang stay 5 hari di Tromsø dan cuma lihat aurora samar dua kali, atau malah sekalipun tidak lihat karena cuaca terus berawan. Ini gambling dengan weather. Ada elemen beruntung yang sangat besar.

Ketiga, ini trip khusus untuk orang yang benar-benar passionate tentang fotografi atau aurora sebagai fenomena alam. Jika elu datang hanya karena "trendy" atau ingin foto bagus untuk Instagram, elu mungkin akan disappointed karena tiga hari menunggu di cuaca minus 15 derajat adalah tortur untuk orang yang tidak benar-benar passionate. Rina dan saya rela melakukannya karena kami memang ingin belajar fotografi ekstrem dan aurora sudah menjadi obsesi kami selama berbulan-bulan.

TAPI jika elu adalah orang yang benar-benar ingin lihat sesuatu yang tidak bisa dilihat di tempat lain di dunia, jika elu tidak takut dengan dingin ekstrem, jika elu punya budget dan waktu, maka Tromsø adalah tempat yang benar-benar magical. Cahaya hijau itu tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Video pun tidak bisa menangkap experience sesungguhnya. Hanya mata kamu yang hidup di momen itu, melihat cahaya bergerak di atas kepala kamu, yang bisa memberi tahu kamu betapa amazing pengalaman itu.

Waktu terbaik untuk pergi adalah September sampai Maret, dengan puncaknya di Desember dan Januari saat cuaca paling ekstrem dan langit paling gelap. Saya datang Oktober dan itu masih agak transisi. Saya dengar November dan Desember adalah sweet spot. Bersiaplah untuk dingin, persiapkan peralatan dengan detail, dan jangan ekspektasi sempurna. Ekspektasi hanya cahaya dan pembelajaran. Semua hal lain adalah bonus.

Bagikan Artikel Ini

Tertarik Pergi ke Sana?

Cek Paket Tour Kami

Semua paket dirancang khusus untuk traveler Indonesia — dari visa, tiket, sampai guide lokal.

Lihat Semua Paket Tour →