Saint Petersburg: Istana, Kanal, dan Malam Putih yang Memukau (Cerita Traveler Indonesia yang Tersesat di Hermitage)

Saya hampir melewatkan penerbangan pertama saya ke Rusia karena surat rekomendasi dari bank yang diminta kedutaan ternyata menggunakan template yang salah. Tapi setelah dua minggu mengurus visa dan berhasil mendapat approval, akhirnya pada pertengahan Juni 2024 saya berhasil terbang dari Jakarta menuju Saint Petersburg. Turkish Airlines via Istanbul, total penerbangan hampir 16 jam dengan layover 3 jam di Istanbul. Saya pergi sendiri, tapi kebetulan ketemu Bagas, seorang copywriter dari Bandung yang juga booked penerbangan yang sama di boarding gate. Kami akhirnya jadi travel buddy selama 3 hari di Saint Petersburg.
Saya memilih June karena penasaran dengan apa yang disebut "Malam Putih" (White Nights). Katanya di musim panas, matahari di Saint Petersburg tidak pernah benar-benar terbenam, jadi kota terang benderang hampir 24 jam. Saat itu saya baru selesai project besar di kantor dan berhasil dapat cuti panjang 10 hari. Bagas juga kebetulan sama, jadi kami sepakat untuk split biaya penginapan dan jalan-jalan bareng, yang akhirnya menghemat budget kedua-duanya.
Tiba di Pulkovo, Sebelum Sadar Saya Sudah Tersesat di Kota

Pesawat kami landing di Bandara Internasional Pulkovo sekitar pukul 11 pagi waktu setempat. Saya sudah prepare karena tahu Rusia masih memerlukan beberapa protokol masuk, meskipun saya sudah dapat visa. Proses imigrasi ternyata cukup cepat, hanya 15 menit untuk dua orang. Bagas langsung tarik uang di ATM dekat area kedatangan sebelum keluar terminal, tapi saya tidak. Saya pikir bisa langsung pakai kartu debit di mana-mana. Besar salah saya, karena banyak sekali restoran lokal dan toko yang hanya terima cash ruble.
Dari bandara, Bagas dan saya naik Aeroexpress, semacam kereta bandara yang langsung ke pusat kota. Harganya sekitar 500 ruble untuk satu orang kalau tidak salah, dan perjalanannya sekitar 45 menit. Saat kami sampai di stasiun Moskovsky, saya coba buka Google Maps untuk cari penginapan kami. Booking saya di sebuah kecil di kawasan Sennaya Ploshchad, dekat dengan Kazan Cathedral. Maps menunjukkan jarak cuma 1.5 km, jadi saya pikir jalan kaki aja sambil explore. Ternyata saat mulai jalan, Maps terus redirect saya ke jalan berbeda setiap 100 meter. Bagas mulai ketawa melihat saya panik, dan dia suggest naik metro. Kami beli Podorozhnik, semacam kartu top-up untuk transportasi publik, dengan harga yang lupa saya catat tapi sangat murah, kurang dari Rp 50.000 untuk lima kali jalan. Dari Moskovsky, kami naik lini merah (Line 1) sampai Sadovaya, turun, dan dari sana baru berjalan 10 menit menemukan penginapan kami.
Homestay bernama "Neva House" itu dikelola oleh Olga, seorang ibu berusia 60-an yang sangat ramah tapi tidak berbicara English sama sekali. Saya sempet khawatir, tapi ternyata Olga punya notepad mini dan langsung tulis instruksi penting untuk saya: jam makan pagi (8 pagi), kode pintu (1234), lokasi shower, dan yang terpenting, nomor telponnya kalau ada emergency. Kamar kami 2 tempat tidur terpisah dengan view ke kanal kecil di belakang gedung, AC yang dingin banget, dan kamar mandi yang bersih. Harga per malam sekitar Rp 450.000 untuk dua orang. Pagi hari Olga memang masak nasi goreng ala Rusia (lebih mirip fried rice) dan menyajikan roti, butter, dan jam lokal yang enak banget.
Hermitage dan Saat Saya Baru Mengerti Mengapa Rusia Disebut Negara Seni

Hari pertama kami langsung menuju Winter Palace, bangunan istana megah berwarna hijau mint yang terletak di Dvortsovaya Ploshchad. Ini adalah salah satu dari dua situs UNESCO di Saint Petersburg yang paling iconic. Bangunan ini adalah rumah dari koleksi Hermitage, museum seni terbesar di dunia. Saya sudah baca-baca online bahwa Hermitage punya lebih dari 3 juta objek seni, dari lukisan Rembrandt, Da Vinci, sampai patung-patung klasik dari zaman Yunani Kuno. Tapi saat saya benar-benar berdiri di depan bangunan itu, langsung terhantam realisasi bahwa tulisan di internet tidak bisa menangkap ukuran dan kemegahan Winter Palace sebenarnya.
Saya sempat tanya ke Bagas, "Brapa jam kita butuh untuk lihat semua?" Bagas cek guide yang dia download dan bilang, "Minimal 6 jam kalo mau lihat yang penting-penting aja." Kami akhirnya hanya set 4 jam, dari jam 10 pagi sampai 2 siang, dan fokus ke bagian-bagian yang paling terkenal: The Peacock Clock (sebuah mesin jam berbentuk merak emas yang sangat detail), Portrait Hall, Italian Skylight Hall, dan gallery-gallery lukisan Eropa. Tiket masuk waktu itu sekitar 800 ruble untuk turis asing per orang, bisa dibeli langsung atau online. Kami beli di spot karena tidak ada antrian panjang saat kami datang.
Saat masuk, saya langsung kewalahan. Ruangan demi ruangan penuh dengan lukisan dari abad ke-15 sampai 20, beberapa tanda tangan oleh Monet, Van Gogh, Picasso. Di satu ruangan, ada 14 boneka-boneka mainan dari zaman Tsar yang masih utuh. Di ruangan lain, patung-patung marmer setinggi 3 meter yang detail banget, dari setiap lipatan kain sampai ekspresi wajah. Saya bolak-balik ke beberapa ruangan karena takut tidak bisa cerna dengan cukup. Bagas saat itu jadi "guide impromptu" saya karena dia bawa guidebook fisik (Lonely Planet), dan dia baca-baca setiap info sambil jalan.
Yang paling memorable adalah saat kami masuk ke The Peacock Clock. Mesin jam itu adalah sebuah karya masterpiece dari abad ke-18. Bentuknya seekor merak emas dengan bulu-bulu yang terbuka, dan di dalamnya ada mekanisme jam yang rumit banget. Petugas di sana bilang, kalau tidak salah dengar, bahwa jam ini masih berfungsi dan jarum jam bergerak dengan cara yang imut. Saya ambil foto dari berbagai sudut dan rasanya waktu seperti berhenti sejenak.
Kanal-Kanal Neva dan Malam Putih yang Membuat Saya Lupa Waktu

Hari kedua kami fokus ke yang namanya "Water Tours" di kanal-kanal Saint Petersburg. Kota ini punya lebih dari 40 kanal yang membelah kota, terinspirasi dari Venice. Saya book tour online sebelum berangkat, dan guide kami adalah seorang pria lokal bernama Dmitri yang ternyata sangat funny dan bahasa Inggrisnya cukup jelas. Tour dimulai dari dermaga dekat Kazanskiy Cathedral sekitar pukul 5 sore, and here's the thing: di bulan Juni, matahari di Saint Petersburg tidak pernah benar-benar terbenam sampai pukul 10 malam, jadi kami bisa melihat seluruh tour dengan cahaya alami yang bagus banget.
Selama 2 jam di perahu, kami berlayar melewati kanal-kanal sempit yang diapit oleh bangunan-bangunan bergaya klasik Eropa. Dmitri menunjuk ke berbagai istana dan rumah-rumah tua bersejarah, termasuk rumah tempat Dostoevsky tinggal (sekarang jadi museum), dan Yusupov Palace yang pernah jadi lokasi pembunuhan Rasputin. Saya coba bayangkan bagaimana Rusia pada abad ke-19, dan ternyata setiap sudut di kanal ini punya cerita yang dalam. Bagas sama saya asyik ambil foto dari perahu, dan cahayanya benar-benar perfect karena matahari masih tinggi tapi sudah kondisi golden hour sejak pukul 7 malam.
Setelah tour berakhir sekitar pukul 7 malam, Dmitri recommend kami jalan ke Strelka (ujung pulau V.O.), tempat dua sungai bertemu dan katanya view-nya terbaik untuk melihat matahari "terbenam" (atau lebih tepatnya, matahari hanya turun ke garis horizon tapi tidak benar-benar gelap). Kami jalan kaki sekitar 20 menit dari dermaga, dan Dmitri bilang untuk duduk dan tunggu sampai jam 11 malam. Saat kami duduk di tepi Neva, langit masih berwarna biru dongker dengan kilau oranye di satu sisi, dan di sisi lain langit masih terang. Saya rasakan suasana yang surreal, tidak ada malam, tidak ada siang, hanya transisi yang infinite. Bagas bilang ini adalah salah satu momen paling memorable dari hidup dia. Kami sampai di penginapan pukul midnight, dan luar biasa, langit masih keliatan warna biru gelap tapi tidak gelap. Olga kaget lihat kami balik jam 12 malam, tapi ketawa dan bilang "you see White Nights?" Ya, kami kenal.
Peterhof Palace: Ketika Saya Menyadari Tsar Benar-Benar Sangat Kaya

Hari ketiga dan terakhir, Bagas dan saya putus untuk jalan ke Peterhof Palace, sebuah kompleks istana yang terletak sekitar 30 km dari pusat Saint Petersburg. Ini adalah summer residence dari Peter the Great dan considered sebagai "Versailles of Russia." Kami naik kereta dari Baltiysky Railway Station, dan perjalanannya sekitar 45 menit. Keretanya tua tapi bersih, dan harga tiketnya kurang dari Rp 100.000 per orang. Masuk kompleks Peterhof kami harus beli tiket tambahan, sekitar 1000 ruble per orang.
Saat kami tiba, pertama-tama kami disambut oleh pemandangan istana yang warna kuningnya cemerlang di bawah matahari musim panas. Istana itu tidak sebesar Winter Palace tapi lebih intimate dan memukau. Di depan istana, ada seratus air mancur yang mengalir dengan hydraulic system dari jaman Tsar dulu, without any electricity. Sistem ini designed oleh engineer Rusia yang genius, dan sampai sekarang masih berfungsi dengan sempurna. Saya jalan menuruni tangga grand dan diapit oleh air mancur dari kiri kanan, rasanya seperti sedang masuk ke dunia dongeng. Bagas sempet bilang, "ini mah lebih keren dari Disneyland."
Interior Peterhof juga stunning, dengan ruangan-ruangan yang penuh dengan furniture antik, chandelier kristal, dan lukisan sejarah. Ada satu ruangan yang called "Dining Hall" yang meja makannya bisa diangkat naik turun pakai sistem pulley dari bawah, supaya Tsar tidak perlu lihat servant masuk keluar. Kami juga lihat kamar-kamar pribadi Tsar dengan detail yang insane banget. Saat kami keluar dan duduk di taman Peterhof yang luas, Bagas tanya saya, "Apa yang kamu rasa?" Saya jawab, "Envy?" Kami tertawa, dan saat itu kami realize bahwa 3 hari tidak cukup untuk truly understand Saint Petersburg. City ini butuh minimum seminggu.
Kalau Saya Pergi Lagi, Ini yang Akan Saya Lakukan Beda
Tukar uang IDR ke RUB sebelum bandara atau di bandara Pulkovo sendiri. Jangan andalkan kartu debit untuk transaksi kecil karena banyak toko dan warung yang cash only, dan ATM tidak selalu ada di sudut jalan. Saya almost ketinggalan makan siang hari pertama karena kasir warung tidak bisa proses kartu saya
Booking Hermitage online dan ambil time slot yang spesifik sebelum tiba, bukan datang langsung. Walau saat kami datang tidak ramai, guide yang kami temui di sana bilang ada hari-hari tertentu di musim panas di mana antrian bisa sampai 2 jam. Sistem booking mereka di website resmi sangat mudah dan bisa hemat waktu.
Jangan harap tidur 8 jam di bulan Juni karena cahaya masuk terus menerus melalui jendela. Bawa eye mask atau stiker tebal untuk tutup jendela. Saya tidur hanya 4-5 jam per malam karena logika biologis saya confused oleh cahaya yang tidak pernah hilang. Bagas membeli eye mask dari convenience store saat hari kedua dan bilang itu menyelamatkan hidupnya.
Belajar beberapa kata dasar Bahasa Rusia sebelum tiba. English tidak universal di Saint Petersburg seperti di kota-kota besar lain di Eropa. Olga tidak bisa English, dan saat saya butuh bantuan dengan shower yang tidak berfungsi, kami terpaksa pakai Google Translate dengan camera function untuk communicate. Kata-kata basic seperti "spasibo" (terima kasih), "pozhaluysta" (silakan), dan "skolko stoit?" (berapa harganya?) sangat membantu.
Jangan underestimate waktu untuk jalan kaki di pusat kota. Setiap sudut ada yang worth photograph, dan every building punya cerita. Saya dan Bagas yang awalnya plan 3 jam jalan-jalan ke area sekitar Kazanskiy Cathedral end up jalan 5 jam sambil berhenti di coffee shop kecil. Kasih diri saya lebih banyak waktu untuk wandering without itinerary yang ketat.
Coba Russian food yang authentic, bukan yang di restoran tourist. Kami sempat masuk ke sebuah warung kecil di belakang Kazan Cathedral yang namanya lupa (Bagas foto menu-nya tapi tidak screenshot nama), dan makanan mereka — khususnya borscht dan pelmeni — lebih enak dan murah dibanding restoran-restoran besar. Estimasi harga per porsi sekitar Rp 80.000 untuk makanan yang filling banget.
Ekspektasi vs Realita: Saint Petersburg Ternyata Lebih dari Sekadar Istana
Sebelum berangkat, mental saya soal Saint Petersburg adalah kota dengan banyak istana bersejarah dan museum Eropa klasik. Saya pikir akan banyak walking tour tentang sejarah Tsar, dan mostly aktivitas indoor mengingat reputation Rusia sebagai negara yang dingin. Faktanya? Saint Petersburg di musim panas adalah kota yang hidup, vibrant, dengan culture yang deep dan street life yang interesting. Orang-orang lokal yang kami encounter di perjalanan kami adalah generous dan helpful meskipun tidak berbicara English dengan lancar. Ada energy di kota itu yang saya tidak expect.
Saya juga pikir Rusia adalah negara yang "expensive" untuk traveler Indonesia berdasarkan standar nilai tukar. Ternyata tidak sepenuhnya. Tiket kereta, tiket museum, dan makanan lokal sangat affordable. Yang pricey adalah kalau kamu stay di hotel-hotel international atau makan di restoran fine dining Western brand. Tapi kalau kamu willing untuk experience lokal, budget kamu bisa stretch jauh lebih panjang dibanding kalau traveling ke Western Europe.
Yang paling tidak saya expect adalah bagaimana Malam Putih benar-benar change perspective tentang apa itu "hari." Saya terbiasa dengan waktu yang jelas: siang itu terang, malam itu gelap, dan waktu untuk tidur adalah malam. Di Saint Petersburg, logic itu collapse. Jam 11 malam langit masih biru, dan tubuh saya tidak pernah truly relax untuk tidur dalam. Bagas bilang ini adalah semacam "jet lag but caused by the sun" yang genius banget description-nya. Tapi exactly karena ini, kami bisa squeeze lebih banyak aktivitas ke dalam waktu yang sama.
Jika ada yang tanya, "Saint Petersburg worth it nggak?" Jawaban saya adalah: tergantung. Kalau kamu adalah orang yang passionate tentang sejarah, seni, dan arsitektur Eropa klasik, jawaban adalah absolutely yes. City ini adalah living museum, dan setiap jalan, setiap building corner punya cerita yang bisa kamu pelajari. Tapi kalau kamu expect party scene besar, beach, atau adventure activities, Saint Petersburg mungkin bukan pilihan pertama. City ini tentang slow travel, contemplation, dan appreciation terhadap beauty and history. Dan untuk saya, itu exactly what I needed saat itu, terutama setelah beberapa bulan work yang intense.
Bagas dan saya setuju bahwa kami akan balik ke Saint Petersburg, tapi kali berikutnya kami allocate minimal 7 hari. Tiga hari adalah intro, tapi untuk truly feel kota ini, kamu butuh lebih lama. Kami pengen explore museum-museum yang kami skip (ada puluhan museum di sini), jalan ke countryside estates lain, dan duduk di coffee shop untuk observe daily life tanpa rush.
Saat ini saya sudah di rumah di Jakarta, dan foto-foto dari Saint Petersburg masih sering saya scroll. Bagas occasionally send saya random foto dan bilang dia sudah start learning Russian language. Saya think tentang Olga, our homestay owner, dan wonder how she's doing di musim dingin. Mungkin bulan depan saya akan write email ke dia pakai Google Translate untuk say thank you. Karena saat akhirnya, what made Saint Petersburg special adalah orang-orang dan the feeling dari kota yang tidak pernah sepenuhnya tidur, dan always giving kamu one more reason untuk stay awake.
Bagikan Artikel Ini
Tertarik Pergi ke Sana?
Cek Paket Tour Kami
Semua paket dirancang khusus untuk traveler Indonesia — dari visa, tiket, sampai guide lokal.

Kazakhstan–Kyrgyzstan–Uzbekistan–Tajikistan · 11 hari 9 malam
Central Asia 4-TAN
Rp 33.400.000

Russia · 9 hari 7 malam
Russia Aurora
Rp 31.000.000



